"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Saturday, January 17, 2015

Apa Kau Mengeri Tentang Penyesalan?

5:09 PM Posted by Wawan Kurn No comments
Seminggu setelah Derby memutuskan untuk menulis, ada keputusan lain yang dia lakukan untuk perasaannya. Saat ini, hari - hari yang dilalui Derby tak begitu menyenangkan. Mengurung diri di dalam kamar, mengabaikan tugas - tugas kampus, menghindari kontak dengan orang lain dan melupakan sejumlah pertemuan atau janji yang telah dia buat sebelumnya. Kecuali jika dia menerima telpon dari orang tuanya yang berada di kota lain, dia tak pernah pandai mengabaikan orang tuanya, terlebih ibunya. Selama beberapa hari ke depan, dia merencanakan untuk sendiri, cukup di rumah dan berdiam diri di kamar. Sebuah keputusan yang sudah biasa dilakukan Derby, dia senang dengan kesendiriannya sembari mengutuk dirinya yang malang. Hal terbaik yang dilakukannya dalam pengurungan diri itu adalah membaca. Derby mulai membaca lebih banyak buku. Kakaknya punya koleksi buku yang tak biasa, ada banyak buku di kamar almarhum kakaknya.   

"Mungkin ada kisah yang lebih baik atau buruk di dalam buku ini, semoga aku bisa melarikan diri ke dunia ini" sambil menatap buku - buku yang berhamburan di dalam kamarnya. 

"Apa kasihku bisa menjadi kisah yang buruk, menyedihkan atau biasa - biasa saja dibandingkan cerita buku - buku ini?" pikirnya. Dan sejumlah pertanyaan dilontarkan kepada dirinya sendiri, dan dia jawab sendiri. Mungkin, jika Derby sudah agak lebih baik, dia harus datang dan kembali mengunjungi psikolog. Tapi sepertinya tidak, untuk saat ini dia belum berniat untuk kembali datang menyerahkan masalahnya di psikolog. Derby hendak menjadi psikolog untuk dirinya sendiri. Namun, itu akan menjadi masalah baru yang tak kalah rumit dari masalah cinta bertepuk sebelah tangan. 

Pagi ini akan jauh lebih buruk dari kemarin. Derby tiba - tiba diserang perasaan bersalah setelah menjawab tidak dari pertanyaan psikolog "Apa kau menyesal?." Pertanyaan dari psikolog tentang penyesalan adalah kebingungan panjang dari dalam dirinya yang tak pernah dia pahami dengan baik. Dia tak menyesal setelah memutuskan untuk berhenti atau mengabaikan perempuannya. Meski pada akhirnya, pada waktu pagi atau malam hari, bayangan perempuan itu serta kegelisahannya datang bersamaan. 

Juga pertanyaan tentang tujuan yang gagal dia bahasakan kepada perempuannya. 

Pagi ini, Derby teringat oleh perkataan perempuannya. "Entah harus beberapa kali kuulangi. Aku tidak tertarik padamu yang tidak bertujuan. Cukup to the point bukan?" 

Derby memikirkan berbagai kemungkinan, dan membuatnya semakin kebingungan. Selama seminggu ini, sepulang dari psikolog dan setelah mendapatkan pernyataan dari perempuannya, Derby semakin terperangkap dalam kecemasannya. Sesungguhnya, Derby pun menyesal atas kebodohannya. Sayangnya, Derby tak mampu membuat pengertian mendasar dari penyesalan. Di kepala Derby, dia ingin mencoba untuk tetap menghubungi perempuan itu. Namun, dia merasa hal tersebut tidak akan memberikan dampak yang lebih baik, bahkan mungkin akan memperburuk keadaan. 

"Dulu, apa kakak pernah mengalami perasaan seperti ini?" pertanyaan itu lahir di benaknya setelah melihat lukisan abstrak milik kakaknya. Lukisan itu dihadiahkan untuk Derby, bukan pada saat Derby ulang tahun melainkan pada saat menjelang Derby menjadi mahasiswa. Konon, lukisan itu untuk seorang perempuan, dan perempuan itu kini telah berkeluarga dan memiliki dua orang anak. Derby tak pernah tahu siapa perempuan itu, namun mungkin suatu saat nanti akan ada kesempatan untuk mengetahui alasan kematian kakaknya itu. 

Kondisi Derby tak begitu buruk dibandingkan kakaknya. Derby terus memperhatikan lukisan itu. Ada banyak warna dan sepertinya membentuk sebuah inisial nama. "Kenapa harus bunuh diri?" Pertanyaan itu selalu tumbuh di kepala Derby. Jika dia mampu memahami jawaban itu, memilih bunuh diri bukanlah hal yang mustahil dilakukan. Kemungkinan untuk mengikuti apa yang kakaknya pernah lakukan, mungkin akan menjadi pilihan. Tapi tidak, Derby jauh lebih baik dibandingkan kakaknya. Setidaknya, Derby memilih bunuh diri dengan menuliskan perempuannya. 

"Aku ingin menulis tentang perempuan yang menyesal" pikirnya. 

Selang sepuluh menit setelah memperhatikan lukisan kakaknya, dia membuka laptop dan mencari beberapa folder. Ada beberapa tulisan yang hendak dia edit, juga beberapa tulisan yang ingin dia kirimkan kepada temannya yang telah bersedia menjadi pembaca pertama. Saat membuka email, sebuah pesan membuatnya terdiam sejenak. Perempuan itu, mengirimkan sebuah surat melalui email. Derby membuka dan membacanya pelan - pelan, dengan hati - hati Derby berusaha mencerna maksud dan tujuan surat itu. Derby membacanya berulang kali, dia berharap menemukan harapan baru dalam surat itu. Tapi sebaliknya, Derby tak menemukan apa - apa kecuali salam perpisahan. 

Derby menyesal, jauh sebelum dia berencana menulis cerita tentang perempuan yang menyesal. "Apa kau mengerti tentang penyesalan?" Derby mulai mengutuk dirinya sendiri dan melihat kembali lukisan abstrak di kamarnya. 
 
*Tulisan ini lanjutan dari postingan sebelumnya, "Saran Seorang Psikolog"

0 comments:

Post a Comment