"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Thursday, January 15, 2015

Aku dan Kura - Kura

10:38 AM Posted by Wawan Kurn No comments
Aku sedang mengasingkan diri di sebuah desa yang jauh dari kota. Di sebuah rumah panggung yang dulu dihuni oleh kakek dan nenek, aku merencanakan menghabiskan waktu sekitar seminggu di sini. Sebelum meninggal, kakek dan nenek membuatkanku sebuah kamar yang istimewa. Di dalamnya ada sebuah akuarium kecil, ada jam dinding yang hanya punya tiga angka. Angka pertama, adalah tanggal kelahiranku 4 (empat). Lalu dua angka lainnya yang sempat tak kumengerti alasannya.

“Kenapa hanya ada angka 4, 5 dan 8?”

“Semua itu ada maknanya”

“Hmm, apa?”

Sebulan setelah kakek meninggal, aku mencurigai angka itu adalah penanda akan tanggal kematiannya. Tanggal 5 Oktober, kakek meninggal dunia. Setelah aku bertanya pada nenek, dia hanya tersenyum dan tak pernah menjelaskan apa – apa. Aku mengira itu hanya kebetulan, namun ketika 8 Januari nenek pun meninggal dunia. Entah bagaimana mereka mampu memberikan aku jam seperti itu. Selanjutnya, aku mengira kematianku akan tiba di tanggal kelahiranku sendiri. Seperti yang mereka berdua alami.

Setiap kali aku atau keluarga kembali ke kota, akan ada pak Tahir yang membersihkan dan menjaga rumah kami di desa. Sebulan sekali, aku pulang dan memancing sejumlah ingatan yang masih hidup tentang kakek dan nenek. Dua orang yang telah membesarkanku hingga usia yang cukup dewasa. Setiap tanggal 4 tiba, aku menulis surat yang entah untuk siapa. Mungkin surat itu akan kutujukan pada seseorang yang menemukan mayatku untuk pertama kalinya.

Namun, sebelum aku mengasingkan diri, seorang perempuan memberiku sebuah hadiah. Seekor Kura-kura kotak-kotak atau box turtle (Terrapene sp.) Dalam bingkisan yang dia berikan, tertulis pesan singkat,

“Jika aku tak bisa menemanimu selama 100 tahun, mungkin dia akan menggantikanku”

Setelah mencari informasi tentang kura – kura, aku yakin jika kemungkinan itu bisa terjadi. Tanpa pikir panjang, aku memutuskan untuk membawanya ke desa.  

Seminggu ini, aku akan ditemani kura – kura pemberian seorang perempuan. Jika kau berkunjung di desaku, mungkin kau akan sulit menemukanku. Sebab aku hanya akan mengurung diri di dalam kamar, melihat tiga angka yang menyedihkan dalam hidupku. Membiarkan detik meletihkan detak jatungku yang bersahabat cemas. Meramaikan kepalaku yang sudah bosan sepi diserang keramaian. Atau sekedar berdiam dan meramalkan tanggal kematianku.

Aku juga ingin mengunjungi mantanku, yang kini telah berkeluarga. Kudengar, dia telah memiliki dua orang anak. Selepas kami berpisah, aku tak pernah melihat wajahnya lagi. Bahkan ketika dia menikah, aku tak sempat datang. "Tunggu... ini bukan sempat atau tidak sempat, melainkan aku tak diberi undangan darinya". Dan besok adalah tanggal empat, setelah kupikir – kupikir, ada baiknya jika aku mengirimkan surat panjang untuk mantan yang telah berkeluarga. Surat itu, akan kusimpan baik – baik. Jika tiba waktunya, aku akan memberikan langsung untuknya.

Lalu, kura – kura itu; aku juga ingin menulis surat untuk kura – kura dan perempuan yang menghadiahkanku hal yang tak biasa ini. Sebelum memulai menulis surat, aku memeriksa kotak kura – kura. Di bawah kotak tempat kura – kura itu, aku mulai memperhatikan sesuatu. Aku melihatnya dengan baik dan melihat ada kertas yang mungkin bertuliskan nama pengirimnya.

"Ya, ini nama pengirimnya" 

*

Ternyata, perempuan yang menghadiahkanku kura - kura adalah seseorang yang berpura - pura ingin membenciku selama bertahun - tahun. Seorang perempuan yang mungkin senyumnya telah samar di dalam ingatanku. Perempuan yang mungkin akan mengajakku bermain dengan dua orang anaknya.  


0 comments:

Post a Comment