"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Friday, December 5, 2014

Homo Patiens

9:50 PM Posted by Wawan Kurn 2 comments
Dunia hadir bersama derita yang kita miliki masing – masing. Sehingga, dalam sebuah catatan yang ditulis pada tahun 1885, Nietzche bertanya, apakah kamu mengetahui dunia itu untuk saya? Pertanyaan itu, sekilas dapat kita temukan dalam diri seorang Viktor Frankl. Seorang psikolog humanis sekaligus pendiri logoterapi yang pernah menjalani kehidupan sebagai tahanan Kamp Konsentrasi Nazi. Viktor Frankl pernah mempersoalkan tradisi Aufklärung yang memahami manusia sebagai homo sapiens atau animal rationale, yaitu makhluk rasional yang merupakan sutradara atas proyek – proyek hidunya sendiri. Dan mengganti konsep itu dengan homo patiens, yaitu manusia yang mampu terbuka menerima penderitaan.

Manusia  memang tidak mampu sekokoh dan seterang makhluk yang berkesadaran penuh. Seperti yang digambarkan sejak filsafat Descartes. Bahwa manusia adalah makhluk yang mampu mengerti dunia, tubuh, Tuhan  dan bahkan nasibnya sendiri. Nietzsche beranggapan bahwa manusialah yang begitu mendalam deritanya. Sekian banyak derita yang kita alami, berkumpul dan menjadi satu. Cerminan kesatuan dalam diri manusia, kian hari mungkin akan membentuk konsep homo patiens. Lebih dari pada itu semua, manusia kini tak lagi melihat derita sebagai kesakitan. Sebagian manusia, mampu menemukan cara menertawakan derita yang dimilikinya.

Sebagian lagi manusia tenggelam dalam derita. Kesadaran akan kesabaran dalam menghadapi derita bukanlah hal yang mudah untuk didapatkan. Bahkan dalam tulisannya yang berjudul “Will to power” Nietzsche menyatakan bahwa adalah sebuah bentuk keimanan, insting bahwa sejenis seni, manusa gagal untuk memahami keterbatasannya, relativitasnya dibandingkan dengan yang lain. Paling tidak, tampaknya sebagai sebuah akhir dari sejenis manusia (masyarakat, ras) ketika ia menjadi toleran, menjamin hak – hak yang sama dan tidak lagi berpikir bahwa ia ingin menjadi tuan.

Maurice Merleau Ponty seorang filosof fenomenologi asal Perancis menyatakan jika manusia adalah lecorps sujet, tubuh subyek. Yang berarti bukan kesadaran murni atau corgito ala Descartes. Melainkan kesatuan utuh jiwa dan badan, kesadaran dan tubuh, maka manusia menderita bukan sebagai cogito, melainkan sebagai le corps sujet. Tubuh itulah yang “mengakarkan” manusia yang menderita ke dalam penderitaannya, sehingga penderitaan baginya tidak tingal eksternal, melainkan mode of being, cara berada manusia itu sendiri.

Kesedian kita menerima penderitaan dapat tercermin dalam bentuk perilaku yang dipengaruhi alam sadar maupun bawah sadar. Namun, pada konsep alam bawah sadar akan menghasilkan sejumlah hal yang kemudian sulit dipahami. Dalam esainya, On Truth and Falsity in their Ultramoral Sense, Nietzche menjelaskan hubungan Tubuh dan Alam Bawah Sadar. Kita ditantang dengan pertanyaan, bisakah anda merenungkan apa yang sejatinya diketahui manusia tentang dirinya sendiri? Alam telah merahasiakan banyak hal pada manusia, bahkan apa yang ada di dalam tubuh kita sendiri, seperti jalinan usus, getaran otot, kerja otak. Namun tidakkah terpikir bahwa kita terkucil dan terkunci dalam ruang pengetahuan. Yang pada akhirnya menimbulkan kesombongan dan delusi di antara manusia itu sendiri.  

Tanpa kita sadari, banyak manusia yang kemudian berubah menjadi beringas, tamak, bengis dan tidak memperdulikan orang lain. Semisal, mahasiswa yang konon membela rakyat dengan demonstrasi di jalan namun berujung saling serang dengan rakyat. Contoh ini tidak akan memutuskan bahwa pihak ini salah atau pihak ini benar. Namun, dapat menjadi bukti bahwa kadang kala kita mementingkan kepentingan diri sendiri tanpa memperhatikan pihak lain. Ada kepentingan dalam kepentingan. Ada ketidakpedulian dalam kata peduli atau peduli pada ketidakpedulian. Pedulikah kita pada penderitaan orang lain atau kita berhasil menciptakan penderitaan untuk orang lain?

Kita terkunci dalam kesombongan atau ketololan yang kita jaga. Mari kita melihat para pemimpin yang lupa posisinya, kehadiran wakil rakyat yang berubah menjadi bejat dan senang berdebat tanpa solusi. Para pengajar yang tak lagi mampu menjadi teladan, Para siswa yang kehilanga arah dan dibutakan zaman, ruang keluarga yang tak lagi punya kasih sayang. Rakyat yang tak lagi diberi dan memberi hormat pada bangsanya. Semakin banyak kesesatan yang menjadi bagian dari derita yang kita temukan.  Kelahiran – kelahiran derita adalah wujud dari kehidupan yang mesti kita jalani. Hingga peristiwa dalam diri kita masing – masing , yang mungkin tak mengenal dirinya sendiri. Bukankah semua itu adalah derita?

Pada akhirnya, semua ini adalah kumpulan kesalahan dalam memahami apa yang semestinya ada di dalam diri kita dan mencoba belajar mengenal diri yang sebenarnya. Maka mungkin kita telah belajar sedikit demi sedikit menjelma sebagai homo patiens.


*
Tulisan ini diterbitkan di Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar, pada Hari Jumat, tanggal 5 Desember 2014.

2 comments:

  1. Belajar dari kesalahan dan kesalahan yang mengajari jalan untuk menjadi lebih baik.

    ReplyDelete