"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Wednesday, November 5, 2014

Riwayat Kesunyian

9:26 AM Posted by Wawan Kurn 2 comments
"Gamelan tidak pernah bersorak - sorai; sekalipun di dalam pesta yang paling gila pun, 
dia terdengar sayu dalam nyanyiannya, mungkin begitulah seharusnya. 
Kesayuan itulah hidup, bukan nyanyian sorak - sorai" 

(Pramoedya Ananta Toer; dalam buku Panggil Aku Kartini Saja)

Catatan ini hanyalah sejumlah ringkasan kejadian. Setelah beberapa hari ini, saya banyak menghabiskan waktu sendiri dan berdiam di dalam kamar. Saya tak begitu menyukai keramaian kota, juga sejumlah kata - kata yang gagal menemukan maknanya. Tulisan saya pun terasa tak mampu menjadi pendengar yang baik, sebab seperti yang tuliskan sebelumnya. Bahwa saya menulis seolah mendengar diri saya, saya bersuara dan berharap tulisan itu mendengarnya. Namun, selalu ada yang berontak dan menolak. 

Barangkali kesayuan ditemukan jauh di dalam ruang panjang. Bukan dengan sendiri atau cara seperti ini. Di ruang lain, ada jawaban yang bertebaran. Berjalan sendiri pada malam hari, atau keluar mendengar cerita - cerita yang bertebaran di jalan adalah kesayuan kota yang terabaikan. Hal - hal terbaik minggu ini adalah memaknai sejumlah kebisuaan panjang yang tak lagi pandai berkata kita. Seluruhnya memilih sendiri, menjaga ruang masing - masing. 

Saya tak lagi ingin mengutuk diri, lantaran dipenuhi kecemasan tentang waktu. Rencana yang tidak terpenuhi bukanlah alasan untuk saya berhenti bersyukur, berbahagia atau melakukan hal lain yang lebih baik. Hampir, seminggu ini saya menghapus kata rencana. Tuhan punya rencana, namun pada akhirnya saya merasa berberat hati jika memberikan tugas seperti itu kepada Tuhan. Tuhan masih punya banyak tugas lain yang lebih penting. Riwayat rencanaku, akan lebih baik jika saya mampu menyusunnya dengan lebih sadar dan yakin. Tuhan tak sepenuhnya campur tangan. 

Kesimpulan itu, saya temukan berteriak di dalam sebuah kesunyiaan malam. Di saat yang terdengar hanyalah putaran baling - baling kipas angin yang terus berbahagia menemani. Saya memandangi putaran demi putaran, mencoba mendengar apa saja yang mampu tersampaikan, meski ada ruang yang entah di mana, kesayuan atau kesunyiaan bermukim dengan tenang. Saya hendak menuju ke tempat itu.   

2 comments:

  1. Ruang itu pernah kau temui
    Ruang itu masih dan selalu ada

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih. Mari temukan ruang baru kita masing - masing :)

      Delete