Menyambut Desember

Hari Minggu ini, saya memutuskan untuk tidak keluar rumah. Rasa – rasanya saya bersalah dan sedang menghukum diri sendiri. Catatan ini tidak akan menjelaskan secara detail apa yang menjadi kesalahan saya, meskipun secara tidak langsung anda mungkin akan memahami apa yang saya maksud dengan kesalahan. Saya hari ini, benar – benar berubah menjadi seorang pemalas. Saya hanya mampu menghabiskan dua buah buku hari ini, itu pun buku yang tipis. Saya gagal mencapai target hari ini untuk menamatkan beberapa buku.

Saya punya banyak lupa yang gagal saya ingat dengan baik. Hal – hal sepele yang semestinya bisa diselesaikan harus tertunda gara – gara kemalasan yang saya jaga sejak beberapa Minggu terakhir ini. Pagi tadi saat menyelesaikan bacaan saya, saya kembali sadar jika hari ini adalah hari terakhir di bulan November. Meskipun semalam, saya berkicau di twitter 

“Malam Minggu terakhir di bulan November 2014 J “ 

Itu menjadi pertanda, bahwa saya sedang menikmati malam Minggu yang berbeda dari biasanya. Saya menghabiskan malam dengan berdiskusi dengan ayah saya, setelah beliau membaca enam puisi saya yang terbit kemarin di salah satu Koran di Makassar. Malam kemarin, saya berbincang dengan ayah saya. Menjelaskan beberapa keinginan saya di masa depan, menulis puisi hingga saya benar – benar tak mampu menulis. Menulis terus hingga saya bisa membuatnya sibuk membaca tulisan – tulisan saya. 

Ayah saya bukan lelaki yang menyenangi kesibukan, lain kali mungkin akan saya tuliskan cerita panjang tentang ayah saya. Ayah saya hemat kata, namun setelah membaca tulisan saya, dia akan lebih banyak bicara. Mungkin karena itu, saya ingin menulis lebih banyak dan membuatnya bisa berbincang lebih banyak dengan saya.

Sesungguhnya, saya sedang menyiapkan diri untuk melalui bulan Desember. Entah mengapa, setiap kali bulan Desember tiba saya menjelma lelaki pemalas yang hanya ingin berada di dalam kamar, sendiri. Terlebih setelah saya pindah ke rumah lama saya, tempat di mana saya bisa merasakan keheningan dan menghindari kebisingan kota. Saya berharap hujan tak membantu rencana ini.


Setelah seminggu ayah saya menemani, besok beliau akan kembali ke Soppeng. Melalui catatan ini, saya ingin memberi kabar, bahwa jika dalam seminggu ini saya tak menulis, itu artinya saya sedang terperangkap. Dan mungkin akan terbebas di tahun depan, 2015. Semoga ini bukan catatan saya yang terakhir di tahun ini.  


2 comments:

Powered by Blogger.