Hom Pim Pa

Saat tumbuh menjadi dewasa, kita terkadang rindu untuk kembali merasakan masa kanak-kanak. Albert Einsten pun pernah menyatakan jikalau, usaha pencarian kebenaran dan keindahan merupakan kegiatan yang memberi peluang bagi kita untuk menjadi kanak-kanak sepanjang hayat. Mungkin karena alasan itu pula, salah seorang lulusan Institut Teknologi Bandung, Mohammad Zaini Alif secara resmi mendirikan komunitas Hong. Zaini Alif sebelumnya telah meneliti tentang seni dan budaya sejak tahun 1996, kemudian tahun 2005 komunitas Hong berdiri hingga peresmiannya tahun di tahun 2008. Komunitas yang bertujuan melestarikan sejumlah permainan tradisional anak-anak. Kini Komunitas Hong telah mendokumentasikan ratusan permainan anak tradisional dari berbagai daerah. Selain itu, komunitas Hong berupaya menjadi Pusat Kajian Mainan dan Permainan Rakyat.

Di Bandung, keberadaan Komunitas Hong menjadi ruang bersama untuk siapa saja, yang sedang diserang keinginan untuk bermain. Johan Huzaingan pun mengatakan bahwa manusia merupakan Homo Ludens. Konsep yang menggambarkan jika manusia adalah seorang pemain yang senantiasa membuatuhkan permainan. Permainan dapat memberikan dampak positif bagi anak-anak. Sebut saja, congklak, gatrik, kelereng, ular naga, gobak sodor, dan sejumlah permainan tradisional lainnya. Anak-anak akan terus belajar, sebab dalam permainan tersebut juga terdapat sejumlah nilai atau pesan moral yang hendak disampaikan.

Seperti yang dijelaskan Zaini Alif, dalam berbagai acara, jika pada kalimat “Hom Pim Pa Alaium Gambreng” Kalimat yang sering kita dengar dari anak-anak itu bermakna “Dari Tuhan Kembali Ke Tuhan, Mari Kita Bermain !!!” Makna kalimat itu, mengajarkan kita untuk selalu rendah hati dan terus menjaga nilai-nilai kehidupan yang Tuhan titipkan.  

*
Tanpa data riset sekali pun, kita tentu memahami bahwa anak – anak di seluruh dunia senang bermain. Permainan itu tentu mampu memberikan berbagai hal positif. Dalam kajian psikologi, anak-anak dan bermain menjadi fokus yang penting dalam masa perkembangan. Sejumlah fungsi permainan yang universal di beberapa budaya kini telah ditemukan, di antaranya,  mengajarkan anak tentang pola interaksi, kerja sama, berbagi, dan berkompetisi.

Di kota – kota besar, orang tua terkadang terlena dan sering kali menghiraukan anak-anak begitu saja. Perkembangan teknologi yang semakin pesat telah membuka ruang sejumlah orang untuk beralih ke permainan yang lebih canggih. Gadget, video game, x-box dianggap pilihan yang lebih baik dibandingkan permainan tradisional. Secara tidak langsung, sejumlah nilai-nilai kita tinggalkan dan terabaikan begitu saja. Anak-anak tumbuh kehilangan jiwa anak-anaknya. Tak heran jika interaksi anak-anak hari ini, kadang tak sesantun yang kita harapkan.  

Beberapa waktu lalu, saya dan teman – teman melaksanakan kegiatan PsychoToys, wadah untuk anak – anak untuk kembali bersua dengan permainan tradisonal, yang dilaksanakan di Sekolah Islam Athirah. Pada waktu itu, kepala Sekolah SD Islam Athirah menjelaskan kepada kami bahwa sebagian besar anak – anak tak lagi mengenal permainan tradisional. Mereka lebih memilih menjadi anak – anak gadget, dan mirisnya, orang tua melihat kebahagiaan anak mereka dengan memberikan permainan elektornik yang maha canggih.  


Mencius salah seorang filsuf asal Cina Kuno menulis jika orang besar adalah orang yang tidak kehilangan hati kanak-kanaknya. Pernyataan Mencius itu, sejalan dengan konsep psikologi perkembangan. Anak-anak memiliki ketulusan dan emosional yang lebih baik dibandingkan tahapan perkembangan lainnya, seperti masa remaja dan dewasa. Namun sangat memprihatinkan, jika sejak masa kanak-kanak, mereka telah kehilangan semua itu. Hari ini, anak – anak berubah dan menanggalkan jiwa mereka masing – masing. Kehidupan berganti dan berulang, namun anak – anak tetaplah harus menjadi anak – anak. Bukan seperti sekarang, mereka menjadi anak – anak digital yang sombong.  Selamat hari anak. 

*

Tulisan ini diterbitkan di Rubrik Literasi, Koran Tempo Makassar, pada Hari Kamis, tanggal 20 November 2014, bertepatan dengan peringatan Hari Anak Universal.

No comments:

Powered by Blogger.