"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Sunday, October 5, 2014

Ziarah

6:40 AM Posted by Wawan Kurn , No comments
Sepuluh tahun yang lalu, saya seperti menemukan seorang lain dalam kepalaku. Pada sore yang dipenuhi diam dan hingga akhirnya membuatku belajar untuk menjadi orang lain. Hari ini, saya kembali merasa tersesat dalam pengalaman itu. Saya menjadi orang lain yang tak pernah memahami siapa yang tumbuh dalam diri saya. Ingatan itu setia kepada cemasku, tak ada tanda-tanda jika dia hendak berhenti mengusik. Bagaimana pun, ingatan itu memberikan saya alasan untuk terus belajar. Maka, saya menulis ini, sebagai upaya untuk menunangkan atau mengurai perasaan itu. Ini kali pertama, saya akan bercerita tentang kakek dan sore yang di dalam ingatanku tersimpan rapi. Semua ini rangkaian proses belajar yang masih kunikmati, apa pun itu.

“Kakek saya” itulah jawaban ketika ada teman, guru, dosen, atau siapa saja yang bertanya tentang orang penting dalam hidupku. Saya dapat belajar menikmati hidup, semua itu karena beliau yang mencurahkan waktunya untuk bercerita banyak hal tentang nilai-nilai kehidupan. Pada masa kanak-kanak saya, ketika ayah dan ibu sedang sibuk di luar kota, kakek menjadi pengganti orang tua. Tepatnya kakek dan nenek saya yang ada di Soppeng.  Mereka berdualah, yang dengan tulus membesarkan saya.

Hari ini, tepat sepuluh tahun kepergian kakek saya. Saat merayakan Hari Raya Idul Adha pagi tadi, saya membayangkan beliau hadir dan tersenyum. Bayangan dalam pikiran saya itu, akhirnya membuat saya langsung mengajak ayah, ibu, dan ketiga adik saya untuk pergi berziarah. Sejak kemarin, saya memang merencanakan semua ini. Ditulisan saya sebelumnya, saya menuliskan jika saya akan datang dan bercerita kepada beliau.


Ziarah Pagi Tadi (dok.pribadi)
*

Kakek saya meninggal pada hari Selasa, 5 Oktober 2004. Saya menjadi orang pertama yang menemukan kakek yang pingsan tak sadarkan diri di halaman belakang rumah. Secara tidak sengaja, saat saya bermain bola, tendangan saya terpental ke arah belakang. Saya berteriak keras memanggil ayah dan nenek. Tetangga saya yang mendengar pun datang, membantu ayah saya mengangkat tubuh kakek. Saya tak tahu sudah berapa lama kakek seperti itu, dan akhirnya ayah dan nenek memutuskan untuk membawa kakek ke rumah sakit terdekat. Saya dan adik perempuan saya menunggu di rumah. Waktu itu, ibu saya sedang mengandung Adil (Adik kedua saya) dan memutuskan untuk menunggu hari kelahiran adik saya di Pinrang.

Saya menunggu sekitar 15 menit, hingga ayah saya menghubungi saya via handphone. Mengabarkan jika kakek saya telah tiada. Tak lama setelah itu, tetangga saya datang membantu dan mempersiakan semuanya. Saya terdiam, dan melihat kakek datang dengan tubuhnya yang tak lagi seperti biasa. Sejak saat itu, seorang lain dalam kepalaku muncul dan menetap sampai sekarang. Saya menyesali lantaran tak datang lebih cepat melihat kakek sebelum pingsan. Jika saja, saya datang lebih cepat, mungkin situasi akan jauh lebih baik.   


Selasa itu, kakek saya pergi ke pasar dan membeli baju baru untuk dirinya sendiri. Hal yang jarang ia lakukan sebelumnya.  Kenangan terakhir yang saya simpan adalah makan siang dengan kakek. Beliau sengaja menunggu saya pulang dari sekolah dan makan siang bersama.  Hari ini, saya terkenang sore itu. Saya merasa bergerak sangat lamban hari ini. Seperti sepuluh tahun yang lalu, saya terlambat melihat apa yang telah tumbuh dalam kepalaku.  

17 Hari setelah kepergian kakek, adik saya yang direncanakan lahir di Pinrang menjelma sebagai teman baru. Karena kematian kakek yang tiba-tiba, ibu saya pulang dan melahirkan adik saya di Soppeng. Saya merasa dia akan menjadi sosok yang bisa membantuku untuk tidak hilang dari kesepiaan. Hari ini, saya yakin jika saya membuat orang menunggu, itu adalah hal konyol. Saya mungkin akan selalu datang terlambat, dan membunuh yang seharusnya hidup lebih lama. 

Tulisan ini seolah menyalahkan masa lampau, namun sekali lagi, ini bagian dari proses belajar yang rumit. Kepalaku tengah ramai dengan suara-suara sepi yang berulang seperti sore pada tanggal 5 Oktober 2004. Semoga di sana, kakek berada dalam lindunganNya. Aamiiin.

0 comments:

Post a Comment