"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Thursday, October 16, 2014

Sayap - Sayap Masa Depan

4:36 AM Posted by Wawan Kurn No comments
“Every education system on Earth has the same hierarchy of subjects: at the top are mathematics and languages, then the humanities, and the bottom are the arts”
Seperti itulah yang sering kali dijelaskan Sir Ken Robinson, salah seorang peneliti bidang pendidikan dan kreativitas. Selain itu Robinson juga aktif menulis, pada tahun 2009 bukunya yang berjudul The Element: How Finding Your Passion Changes Everything dinobatkan sebagai Buku Best Seller New York Times dan telah diterjemahkan ke dalam 21 bahasa. Mari kita kembali merenungkan pernyataan tadi. Selama ini di sekolah, kita telah mendapatkan sistem pendidikan yang membentuk konstrak berpikir kita secara sadar atau tidak sadar. Salah satu yang mungkin kurang kita sadari adalah hirarki pendidikan yang lahir secara perlahan namun pasti.
Misalnya saja, Matematika, atau ilmu yang berkaitan dengan angka serta rumus yang rumit. Atau turunan yang mencapai beberapa halaman, telah menjadi pelajaran yang berada di level tertinggi. Sedangkan seni, selalu saja menjadi level paling rendah. Tak jarang orang tua, melarang anaknya jika ingin memilih jurusan seni atau jurusan pilihannya sendiri.
Gunawan Muhammad pernah  menyatakan jikalau “sekolah pun keliru bila ia tidak tahu diri, bahwa peranannya tidak seperti yang diduga selama ini. Ia bukan penentu gagal tidaknya seorang anak. Ia tak berhak menjadi perumus masa depan” Sayangnya, lingkungan kita telah menjadikan sekolah sebagai cermin masa depan seorang anak. Kita kadang kala terlena dengan hasil belajar yang hanya memperlihatkan dimensi kognitif seseorang. Tanpa memperhatikan aspek lain yang dimiliki setiap individu. Dan dengan mudahnya kita menciptakan definisi kecerdasan yang keliru.
Hirarki pendidikan itu tak lain seperti sangkar burung yang menghilangkan fungsi dua buah sayap. Tidak ada kebebasan untuk mengalirkan apa yang sebenarnya kita inginkan dan kita miliki secara utuh. Bukan hal yang berlebihan, jikalau kita bersama-sama sepakat menyatakan bahwa sekolah dengan sistem pendidikan seperti itu adalah tempat kreativitas kita terbunuh pelan-pelan. Kecerdasan telah dinilai secara dangkal, orientasi kita berubah dengan mengejar kesempurnaan yang tidak sesuai dengan apa yang telah kita miliki.
Hal itu juga tak lepas dari kondisi yang menuntut seseorang untuk harus siap kerja di kantor atau industri, ada banyak tuntutan yang mengganggu. Hingga seseorang lupa tentang kekayaan yang dimiliki di dalam dirinya. Ken Robinson percaya, bahwa anak-anak akan menjadi korban bila mana sistem tersebut tidak kita hapus dengan senantiasa membebaskan serta menghargai pilihan anak.
Orang tua melihat masa depan anak dengan terburu-buru tanpa belajar merasa atau memahami potensi yang dimiliki sang anak. Orang tua sekiranya mampu menjadi bagian dari pendidik yang selalu menjaga potensi bukan malah membunuh potensi yang ada.  
*
Pablo Picaso pernah menyatakan jika setiap anak terlahir sebagai artis, masalahnya adalah bagaimana anak bisa tetap terjaga sebagai artis selama proses tumbuh kembang berlangsung. Setiap anak memiliki potensi masing-masing. Pendidikan, sejatinya adalah jalan untuk menemukan kesejatian yang ada di dalam diri kita masing-masing. Pendidikan adalah jalan menuju masa depan yang jauh lebih baik. Saya selalu berharap, jikalau suatu saat nanti di Indonesia, sistem pendidikan akan lebih ditingkatkan dengan memilih tenaga pendidik yang benar-benar mampu mendidik.

Tujuan pendidikan tak lain untuk menggantikan pikiran yang kosong menjadi lebih terbuka. Dan selanjutnya, mengembangkan semangat untuk terus belajar. Bila semangat belajar itu telah didapatkan, kita tak akan pernah berhenti untuk tumbuh. Serta membebaskan kita dari sangkar burung dan memberikan kita kesempatan untuk terbang dengan kreativitas yang kita miliki masing-masing. Semoga di masa depan, tak ada lagi sayap-sayap yang dipatahkan oleh kesalahan sistem pendidikan yang keliru.
_________________________________
Tulisan ini dimuat pada Literasi Tempo Makassar, Kamis 16 Oktober 2014

0 comments:

Post a Comment