"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Sunday, October 5, 2014

Mengenang Putri (1)

5:16 PM Posted by Wawan Kurn , No comments
Akhir-akhir ini, saya sering mengenang. Sejumlah peristiwa yang masih mampu kutemukan, menjadi sesuatu yang menarik untuk kupanggil ulang. Mengenang akan menjadi cara yang lebih baik untuk saya, sebab dengan itu saya akan belajar untuk melihat diri saya di masa itu. Sesekali saya memikirkan berbagai kemungkinan di masa depan. Menghubungkan satu peristiwa ke peristiwa lainnya lalu melihat letak kesamaan atau perbedaan. Beberapa waktu lalu, saya percaya jika semua peristiwa yang terjadi berada dalam satu rangkaian yang saling terhubung satu sama lain.

Kali ini, saya hendak menuliskan pengalaman pertama saya ketika mengenal perasaan suka kepada lawan jenis. Dulu, ketika semua itu terjadi begitu saja, tidak ada yang bisa kupahami dengan baik. Namun, sekarang semua terasa amat jelas. Samar-samar masa lampau masih menjaga sesuatu yang amat berharga untuk saya. Semua yang kulakukan saat ini, mungkin tak berarti apa-apa bagi orang lain, terlebih kepada seseorang yang akan kutuliskan nanti. Beruntung, jika dia tiba-tiba tersesat dan membaca tulisan saya kali ini. 

Baiklah, saya mungkin akan bercerita tentang mengapa dan bagaimana cinta mampu jatuh di masa itu. Saya berniat untuk menceritakan perempuan-perempuan yang pernah menemani saya merenung dan memikirkan kehidupan saya yang kadang saya kutuk. Pengalaman saya dengannya, pernah berulang pada perempuan lain yang mungkin akan saya ceritakan dalam beberapa waktu ke depan. 

*

Namanya, Putri. Semenjak menginjakkan kaki di bangku SMA, saya tak lagi pernah melihatnya. Saya hanya mendengar kabar dari teman-teman dekatnya, yang juga teman dekat saya. Kami (sebut saja saya dan dia) hanya punya cerita yang amat singkat. Saya memulai pengalaman seperti ini di tahun kedua saya di SMP. Saya termasuk orang yang sulit untuk tertarik pada sesuatu yang baru, saya memang suka dengan hal lama yang dipenuhi dengan ingatan yang menyenangkan. Waktu itu, saya amat jarang untuk berniat mencoba hal-hal baru. Pacaran, misalnya. Tapi, ada satu hal yang menjadi pelaku penting dari semua yang terjadi antara saya dan Putri. 

Saya dan Putri berada dalam kegiatan ekstrakurikuler yang sama, yaitu Pramuka. Kami dekat namun tak begitu dekat sepenuhnya. Awalnya, saya mengenal dia tepat saat ditemani dengan seorang lelaki yang konon adalah pacarnya sejak SD. Dia memulai belajar tentang perasaan suka lawan jenis lebih cepat dari saya. Hingga pelaku penting yang saya sebutkan sebelumnya menjebak saya dalam sejumlah peristiwa. Dia adalah guru bahasa Indonesia saya sekaligus pembina pramuka di SMP, namanya Pak Malik.    

Pernah ketika kami sedang ujian akhir semester, dan beliau mendapat tugas untuk menjadi pengawas di kelas kami. Pak Malik datang dan membisikkan kalimat yang mengganggu konsentrasi saya, "Dia juga suka ji sama kamu Wan" sambil menunjuk ke arah Putri yang duduk tepat di depan saya. Saya dan Putri awalnya tidak berada di kelas yang sama. Saya di kelas Unggulan, dan Putri di kelas I E. Namun pada tahun kedua, Putri mendapat kesempatan untuk pindah di kelas Unggulan karena mendapat peringkat pertama di kelasnya. 

Kemampuan manusia untuk menipu diri sendiri tidak boleh diremehkan. Saya bahkan merasa berbakat dalam hal seperti itu. Di kelas, kami sering melakukan interaksi yang menyenangkan. Tergabung dalam satu kelompok tugas, saling mengingatkan untuk datang latihan pramuka, atau bercerita tentang perkemahan Sabtu Minggu yang singkat. Sesekali kami bertengkar atau berdebat, dan diam-diam saya pun merasa terjebak dalam perasaan yang tak ingin kutemui. Namun pada akhirnya, saya merasakan semua itu.  

Saya merasakan itu di waktu yang kurang tepat, saat itu Putri sudah bersama dengan orang lain. Bakat menipu diri sendiri perlahan saya gunakan, dan di sini saya tak bisa menceritakan apa yang sebenarnya yang saya lakukan waktu itu. Saat itu saya mulai menulis puisi yang benar-benar kekanak-kanakan dan payah. Saya punya satu buku yang khusus untuk menulis puisi, itu sebenarnya tugas dari Pak Malik saat belajar Bahasa Indonesia. Entah, saya bahkan menulis surat panjang yang entah untuk siapa.  

Pak Malik, meskipun mengetahui jika Putri sudah punya seorang pacar, masih saja tetap mengusik, menjebak dan mempermainkan kami dengan kata-kata yang dibumbui sejumlah majas. Di perkemahan, kadang dia melontarkan puisi yang saya tak tahu milik siapa. Puisi itu seperti kail yang berniat memancing saya untuk bicara, namun saya abaikan begitu saja.

Kondisi seperti itu menjadi biasa. Kami, tetap saling berkomunikasi, entah, mungkin dia bisa merasakan apa yang saya rasakan pada waktu itu. Putri adalah orang pertama yang kukirimkan pesan singkat saat saya dihadiahkan sebuah handphone dari paman. 

Keberadaan handphone itu membuat saya semakin dekat dengan Putri, namun tak begitu dekat. Sebab telah ada orang lain yang lebih dulu dekat dengannya, sekali lagi, orang itu bukan saya. 

*bersambung

0 comments:

Post a Comment