Kohlberg dan Kerumitan Dilema Moral

Apakah Tuhan senang memberikan kita dua pilihan yang rumit untuk ditentukan atau dipahami? Jika pertanyaan tersebut kita lontarkan pada Lawrence Kohlberg, seorang ilmuwan psikologi asal Amerika Serikat. Kemungkinan Kohlberg akan menjawab dengan tegas, bahwa hidup dipenuhi dengan kerumitan yang kadang sulit dipecahkan atau bahkan tak mampu kita pahami secara utuh. Hingga akhirnya, Kohlberg melahirkan sebuah teori psikologi yang dilahirkan dengan cara mengajak orang-orang untuk menentukan pilihan dari kerumitan sebuah peristiwa. Teori tersebut dapat kita pelajari untuk mengenal dan mengamati bagaimana sebuah perilaku dapat bernilai baik atau buruk di lingkungan sehari-hari. Semua itu diperoleh dari hasil penelitannya bersama beberapa koleganya yang dimulai pada tahun 1958.

Perilaku tentu akan menjadi cerminan diri seseorang dan setiap perilaku akan diikuti oleh sebuah penilaian. Pada umumnya, jika terjadi sebuah masalah kita cendrung melihat dari sisi subjektif tanpa mencoba merasakan posisi yang terjadi pada pelaku. Sehingga pada penelitian Kohlberg, individu ditempatkan pada posisi terjepit, atau dalam istilahnya, disebut sebagai dilema moral. Individu akan memberikan langkah dan dari semua itu, akan terlihat bagaimana kondisi moral individu. Sebab itu, mencoba mengenal Kohlberg akan menjadi upaya sederhana untuk memahami tentang perilaku yang berdasar pada konsep pemahaman moral dengan memberikan ruang pada pikiran kita untuk lebih terbuka dan menjadikan kita untuk belajar bijaksana.     

Beberapa waktu lalu, tepatnya pada tanggal 22 Juli 2014, Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan secara resmi hasil pemilihan presiden yang pada akhirnya menempatkan pasangan Jokowi-Jusuf Kalla sebagai kandidat dengan suara terbanyak mengalahkan pasangan Prabowo-Hatta. Hasil tersebut memberikan reaksi atau penilaian yang berbeda di berbagai kalangan. Mendukung A atau B, dilandaskan pada alasan subjektif dari setiap individu. Ada yang menerima, ada pula yang menolak hasil tersebut. Saling hujat menghujat, mengumbar aib, berbagai cara dilakukan demi mempertahankan pilihan masing-masing. Sejak dimulainya pilpres hingga sekarang, fenomena pendukung A dan B masih terus berlanjut. Pihak mana yang benar dan pihak mana yang keliru?

Untuk menilai dan melihat kondisi perkembangan moral individu, Kohlberg menggunakan konsep dilema moral. Menurut Kohlberg tiap-tiap pertimbangan moral adalah produk dari sebuah perbedaan struktur kognitif, yaitu suatu pengorganisasian sistem asumsi-asumsi dan aturan-aturan tentang situasi konflik moral yang memberikan situasi makna terhadap asumsi dan aturan tersebut. Struktur kognitif tidak terjadi karena pembawaan tetapi merupakan hasil interaksi organisme manusia dengan "lingkungan sosial"-nya. Fungsi pertimbangan moral adalah untuk memecahkan konflik klaim-klaim pribadi dengan lainnya.
*

Momentum kemenangan di Hari Raya Idul Fitri semoga menjadi titik evaluasi diri untuk kita semua setelah menikmati kerumitan yang dihadiahkan oleh Tuhan. Menjelang hari Raya Idul Fitri, kita tentu berharap kerumitan dari kondisi politik Indonesia dapat segera berakhir dengan damai. Lebaran kali ini, membuat saya ingin belajar dari istilah Kohlberg, yakni evaluasi moral. Hal itu menjelaskan serta menutup penelitiannya, bahwa jika apa yang kita katakan tak selamanya, apa yang kita lakukan. Sekali lagi, perilaku dan pertimbangan moral akan mencerminkan siapa dan seberapa bijak diri kita menjalani hidup yang (mungkin) dipenuhi kerumitan. 


*Tulisan ini diterbitkan dalam kolom Literasi, Koran Tempo Makassar, Sabtu 2 Agustus 2014

No comments:

Powered by Blogger.