Rindu Seluas Halaman Sepi

Akan kuceritakan derita, serupa seorang pembawa berita menayangkan negara kita
akan kukaburkan sedikit kabar agar kita mampu saling bertanya dengan debar

perihal debar ini, adalah rindu yang berpadu rupa-rupa
hingga berkumpul penuh di halaman rumah seluas tanah lapang dalam mimpi tak bertepi,
ditumbuhi bayang-bayang masa lampau separuh hidup, separuh mati.
Tempat seorang calon kekasih, nyaris menjadi kisahku sendiri tapi bersama.

kupanggil kau kembali berkunjung,
membiarkan ingatan semu saling mengingat mengikat
tentang keindahan tetes hujan yang tertahan di daun matamu,
dan kini hanyalah retak dahan patah dihempaskan kemarau

dulu kau atau aku kuharap bertahan dalam kata kita
namun terpatahkan dan tak lagi sempat terpahatkan waktu
masa depan tak mampu kujadikan halaman rumah untukmu
sebab kini, sejumlah kenangan senang berperang dalam ingatan
menjelma duka menjalar ke seluruh tubuh jadi luka berlumur sepi

cahayamu penuh sebelum matahari tenggelam,
kau lebih kejam dari pejam matahari

dulu, kau senang hinggap di batas halaman rumahku
hadir dan lahirkan banyak bayangan
yang senang menjelaskan tentang pertemuan
yang tak pernah meminta perpisahan

di balik jendela kamar, kau kuperdengarkan suara waktu
berbalik berbisik menyiram ingatan ala kadarnya

kekasih, di halaman rumahku telah kutimbun kau
bersama sejatinya makna kehilangan  yang kita hilangkan bersama
di halaman rumahku yang sepi.


dok.pribadi

Makassar, 17 Juni 2014
*Dibacakan di #SajakTengahMalam oleh @hurufkecil di Iradio Makassar pada tanggal 20 Juni 2014

No comments:

Powered by Blogger.