"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Saturday, May 24, 2014

Peradaban Bangsa dan Buku

2:19 AM Posted by Wawan Kurn 1 comment
34 Tahun yang lalu, bertepatan dengan didirikannya Perpustakaan Nasional di Jakarta 17 Mei 1980. Pemerintah Indonesia sengaja menetapkan tanggal 17 Mei sebagai hari buku nasional. Keputusan tersebut berkaitan dengan pembangunan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang berlokasi di Kota Jakarta waktu itu.  Tentu keputusan tersebut dibuat dengan niat serta harapan besar untuk melihat bangsa Indonesia dapat menjadi bangsa yang lebih baik.

Ketika kita membahas peringatan hari buku, maka terdapat dua hal yang kemudian tak bisa kita lepaskan, yakni membaca dan menulis. Membaca dan menulis merupakan sebuah kesatuan yang saling memberikan arti serta prasyarat antara satu dengan yang lainnya. Buku hadir karena adanya aktivitas menulis, dan begitu pun sebaliknya, aktivitas menulis hadir karena ada aktivitas membaca. T.S. Elliot –seorang penyair Inggris periode (1888-1965) mengatakan bahwa “sulit membangun peradaban, tanpa budaya tulis dan baca.” Momentum Hari Buku Nasional kali ini, tentu dapat kita jadikan sebagai sebuah refleksi untuk kembali melanjutkan serta mewujudkan niat para pendahulu kita.

Efi Efrizal Sinaro, Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) menjelaskan bahwa, Indonesia hanya menerbitkan sekitar 24.000 judul buku per tahun dengan rata-rata cetak 3.000 eksemplar per judul. Dalam setahun, Indonesia hanya menghasilkan sekitar 72 juta buku. Dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia 240 juta jiwa, berarti satu buku rata-rata dibaca 3-4 orang. Data tersebut menggambarkan bahwa penduduk Indonesia hanya akan menemukan peradaban yang biasa-biasa saja jika tak berani menciptakan budaya literasi yang kuat.

Mari kita belajar dari Jepang. Bagi orang Jepang, mereka tetap meluangkan waktu untuk membaca. Membaca telah menjadi sebuah kebutuhan layaknya makan dan minum sehari-hari. Berbeda dengan orang Indonesia, waktu luang terkadang dihabiskan dengan hal-hal yang kurang bermanfaat, membaca sama sekali belum dijadikan sebagai sebuah kebutuhan. Rendahnya minat baca perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak.

Minat Baca
Dalam Islam, ayat-ayat literasi (baca-tulis) sangat jelas keberadaanya. Dipahami bahwa ayat Al-Quran yang pertama turun (Al-Alaq 1-5) berbicara tentang literasi. “Bacalah, dengan menyebut nama Tuhanmu yang Mencipta..” Tidak tanggung-tanggung, perintah membaca itu pun diulang dua kali, seperti hendak menekankan betapa pentingnya budaya baca. “Bacalah, dan Tuhanmu Maha Pemurah” (Al-Alaq; 3)

Seseorang yang mempunyai minat membaca yang kuat akan diwujudkannya dalam kesediaannya untuk mendapat bahan bacaan dan kemudian membacanya atas kesadaran sendiri atau dorongan dari luar. Minat baca masyarakat Indonesia tergolong masih sangat rendah. UNESCO pada 2012 melaporkan bahwa indeks minat baca warga Indonesia baru mencapai angka 0,001. Artinya dalam setiap 1.000 orang Indonesia, hanya ada satu orang yang memiliki minat baca.

Pembentukan kebiasaan membaca hendaklah dimulai sedini mungkin dalam kehidupan, yaitu sejak masa kanak-kanak. Pada masa kanak-kanak, usaha pembentukan minat yang baik dapat dimulai sejak kira-kira umur dua tahun, yaitu sesudah anak mulai dapat mempergunakan bahasa lisan, memahami yang dikatakan dan berbicara. Saat itu pula, secara tidak langsung kita telah membentuk peradaban bangsa.

Bangsa yang hebat dibangun dari masyarakat yang memberikan perhatian khusus pada budaya membaca, menulis hingga meneliti. Pengetahuan menjadi sebuah prioritas yang dibangun dengan langkah bersama dari berbagai kalangan. Masyarakat mampu menciptakan sinergi yang pada akhirnya menghadirkan peradaban masa depan yang tangguh dan mampu memberikan perubahan ke arah yang positif. Tentu, Indonesia patut belajar dari langkah yang telah ditempuh beberapa Negara dengan membangun budaya literasi yang kental di kalangan masyarakat. Gunawan Muhammad mengatakan bahwa “Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan.

Budaya Menulis
Dalam setahun, Indonesia hanya menghasilkan sekitar 72 juta buku. Jumlah tersebut terbilang rendah bila dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia. Indeks produktivitas buku di Indonesia masih sangat rendah. Data 2010 menyebutkan dalam setahun hanya 8000 buku yang bisa dihasilkan terutama untuk karya-karya yang bersifat inspiratif dan refleksi diri di luar buku mata pelajaran.

Dirjen Pendidikan Dasar Kemendikbud Hamid Muhammad menjelaskan bahwa rendahnya indeks produktivitas buku menjadi indikator bahwa masyarakat Indonesia belum memiliki kegemaran untuk berkarya dalam bentuk tulisan. Bandingkan dengan Malaysia yang penduduknya hanya 1/10 Indonesia, indeks produktivitas bukunya sudah mencapai 15 ribu, Jepang 60 ribu dan Inggris 110 ribu buku.Padahal nenek moyang bangsa ini telah membuktikan karya-karya hebat yang telah diakui dunia internasional seperti karya I La Galigo, Nagarakertagama, Kitab Kutaramanawadharmasastra, Naskah Siksa Kanda Keresian dan lain-lain.

Terkhusus untuk karya I La Galigo layaknya menjadi inspirasi untuk masyarakat Sulawesi Selatan. Hikayat La Galigo telah menjadi dikenal di khalayak internasional secara luas setelah diadaptasi dalam pertunjukan teater I La Galigo oleh Robert Wilson, sutradara asal Amerika Serikat, yang mulai dipertunjukkan secara internasional sejak tahun 2004. I La Galigo selain naskah terpanjang di dunia juga mempunyai nilai-nilai luhur yang kiranya menjadi motivasi bagi kita untuk senantiasa meningkatkan keinginan untuk menciptakan peradaban literasi yang mendorong peradaban masa depan lebih baik.


Maka, momentum peringatan hari buku nasional menjadi sebuah titik untuk belajar bersama dan bergerak bersama untuk menemukan perubahan dalam meningkatkan budaya membaca dan menulis. Solusi untuk melahirkan lingkungan literasi yang kondusif menjadi tanggung jawab bersama dari berbagai kalangan. Peradaban bangsa akan semakin kuat bila kita mampu membangun kesadaran kolektif untuk mencintai dunia literasi. Selamat Hari Buku Nasional, mari membaca dan membiarkan buku-buku mendampingi dan membantu kita membangun Indonesia lebih baik. Semoga!

Sumber: dok.pribadi
Tulisan ini dimuat pada Kolom Opini, Tribun Timur Makassar, Sabtu, 17 Mei 2014

1 comment: