"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Saturday, May 24, 2014

Buku tentang Kenangan

11:18 PM Posted by Wawan Kurn 2 comments
Sudah dua tahun aku bertahan menahan perasaan ini. Aku tak yakin dengan apa yang selama ini terjadi. Aku dipenuhi keraguan yang mengajariku untuk tetap belajar yakin. Aku bahkan tak percaya bila membayangkan wajah dan senyumnya di kala senja atau sebelum aku terlelap dalam malam, boleh kusebut rindu. Entahlah.

Di sore itu, dia pergi dan tak sempat pamit, semua berlalu begitu saja. Padahal, aku berharap akan ada arti dari pertemuan seminggu yang aku dan dia lalui dengan perbincangan tentang mimpi juga harapan akan masa depan. Dia adalah Rinda. Aku mengenal Rinda, saat dia berkunjung di sekolahku di Soppeng. Waktu itu dia datang dengan pamannya, guru kesenian di sekolahku. Kami bertemu di perpustakaan, dan pada mulanya berbincang tentang buku. Hingga kuberanikan diri untuk memulai,

“Kamu suka baca buku itu?”
“Suka, kenapa?”
“Kamu suka puisi?”
“Iya, kamu juga suka puisi?”

Hari selanjutnya, Rinda kembali datang bersama pamannya. Aku pun mengajaknya kembali berbincang tentang buku. Rinda berbeda dari perempuan yang selama ini kukenal. Dia perempuan yang menyenangkan untuk menjadi kawan yang punya banyak hal baru dan tidak membosankan. Selama seminggu dia berlibur dan rajin datang bersama pamannya di perpustakaan. Dan hari terakhirnya di Soppeng, dia tak member kabar bila dia akan pulang ke Makassar. Aku mengira Rinda masih menetap beberap hari lagi.

Padahal, aku mempersiapkan sebuah buku puisi yang ingin kuhadiahkan untuknya. Juga sebagai salam untuk Rinda, bahwa aku telah menemukan hal yang indah dan mampu menyamai puisi di dalam senyumnya yang damai.
*
Kenangan tentang Rinda di perpustakaan telah berlalu dua tahun. Selama itu juga aku menyimpan buku itu dan berusaha mencari jejak Rinda. Aku hanya menghubunginya via Facebook. Sewaktu ulang tahun, kukirimkan dia puisi sederhana kesukaannya dan doa untuk keselamatannya. Lewat pesan itu, aku berharap dia akan membalasnya dan aku mampu untuk memulai komunikasi yang lebih baik.

Kini, aku juga mampu merasakan Makassar. Menjadi mahasiswa Fakultas Psikologi, adalah hal yang menenangkan. Aku belajar menenangkan diri, belajar tentang cemasku sendiri, belajar tentang hal yang belum pernah kupikirkan sebelumnya. Dan pagi ini aku merayakan hari ulang tahunku, satu pesan melalui inbox facebook membuatku merasakan debaran yang belum pernah kurasa sebelumnya. Debaran yang membuatku dipenuhi keraguan untuk menyatakan bahwa ini adalah cinta. Dan juga, tak percaya bila membayangkan wajahnya dan senyumnya di kala senja atau sebelum terlelap boleh kusebut rindu.

“Selamat Ulang Tahun, kukirimkan satu buah puisi dan doa untukmu. Rinda”
“Hey Rinda, apa kabar? Terima Kasih ucapannya” spontan kubalas pesannya, tak lama setelah itu Rinda pun membalasnya dengan balik bertanya. Akhirnya, lewat chat yang berlangsung sekitar dua puluh menit itu, aku dan Rinda membuat janji untuk bertemu dan kembali melanjutkan beberapa cerita yang dua tahun lalu belum sempat terselesaikan.

“Baik, kita ketemu 22 Februari di Toko Buku dekat kampus. Deal?”
“Deal. Tolong ingatkan via sms ya”

Tuhan seolah memberiku hadiah yang jauh hari telah kutunggu, kehadirannya meskipun hanya sebatas chat sangatlah berarti untuk melepas penat di kepalaku. Hari itu juga, kudapatkan nomor handphonenya, yang dulu tak sempat aku dapatkan. Hari itu juga pertama kalinya dia membalas chat yang sejak lama kukirim untuknya. Aku tak tahu, mengapa Rinda seperti itu, entahlah.

*

Siang ini akan sangat berarti untukku. Hari ini 3 Mei, waktu yang telah disepakati. Aku datang lebih awal dari waktu yang dijanjikan, kukirimkan pesan singkat kepada Rinda.

“Aku sudah di lokasi, aku tunggu”

Aku membawa buku puisi yang dulu ingin kuhadiahkan. Debaran itu semakin aneh, terlebih saat Rinda membalas pesanku dan mengatakan bahwa dia sudah dalam perjalanan menuju lokasi. Aku membaca beberapa buku sambil menanti Rinda. Tak terasa waktu berlalu, tiga puluh menit dari waktu yang dijanjikan Rinda tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Aku keluar, dan berdiri di depan toko buku sambil memegang buku yang ingin kuhadiahkan untuk Rinda.  Aku menanti Rinda, tak sadar sudah tiga jam berlalu. Senja sebentar lagi datang memanggil inginku kembali untuk pulang.


“Maaf kak, sore ini aku lupa kalau aku ada latihan musik. Kita ketemu lain kali ya” kubaca pesan itu dan berharap Rinda hanya sekedar bercanda. Aku tetap menanti Rinda, dua jam setelah membaca pesannya, dan senja pun mulai menenggelamkan dirinya. Aku sadar, Rinda tak bercanda, dan aku mesti ikut menenggelamkan inginku untuk bertemu dan memastikan perasaanku yang penuh dengan kenangan bersama senja hari ini.

Sumber: dok.pribadi

Tulisan ini dimuat di kolom Cerita Mini, Keker Fajar, Sabtu 24 Mei 2014


2 comments:

  1. Keren Wan, harapanku kelak saya bisa nulis sepertimu wan

    ReplyDelete