Saya, Liverpool dan Pujiono

Saat menulis catatan ini, saya sedang bersama dua orang teman. Satu dari Psikologi Angkatan 2012 dan satu teman dari Psikologi angkatan 2011, saya merasa lupa dengan nama mereka berdua. Saya akan menulis secara acak, apa saja yang terlintas dan saya inginkan. Mereka berdua datang menyaksikan laga penentu antara Liverpool dan Chelsea malam ini. Catatan ini kumulai setelah skor tiba-tiba berubah, Chelsea baru saja menjebol gawang Liverpool, setelah Gerrard gagal menahan bola dan dimanfaatkan pemain Chelsea. 

sumber gambar di sini

Pendukung Chelsea bersorak, sedang Liverpool sedikit diam. Saya lupa menuliskan tempat saya sekarang, seharusnya kutulis di paragraf awal. Tapi sudahlah, sekarang saya sedang berada di daun coffee. Teman yang mengajakku ke sini, mengenakan jersey Chelsea, jelas dia mendukung Chelsea. Meskipun dia mendukung Chelsea dan saya Liverpool, kami tak sempat bertaruh atau membahas pertandingan ini dengan baik. 

Dua orang teman yang ada di sekitarku sedang menyelesaikan laporan Psikologi Eksperimen, luar biasa! Sesekali mereka melihat ke layar dan menyaksikan umpan demi umpan dari para pemain. Begitu pun dengan saya, pertandingan itu tak menyita banyak perhatianku. Saya bahkan memilih memaikan sebuah film yang berjudul "Confession". Di menit ke 35 film itu, saya berhenti dan membuka google. 

Tiba-tiba saya ingin belajar mendesain foto saya sendiri, menjadi kartun. Tapi gagal dan kuhentikan percobaan yang tak biasa itu. Malam ini, saya memesan semangkuk mie kuah ditambah telur di atasnya, ini mie pertama setelah sebulan ini saya berhenti atau libur mengkonsumsi mie. Saya alergi dengan mie dan telur, menyedihkan rasanya. 

Dok: Foto Pribadi 
Saya mengenakan pakaian berwarna merah, tapi bukan jersey Liverpool. Mungkin itu cara saya melawan atau menantang teman yang mendukung Chelsea. Setelah menulis dua kalimat terakhir tadi, pendukung Liverpool bersorak. Suarez nyaris menjebol gawang Chelsea. Pertandingan ini penting untuk Liverpool, jika menang bisa dipastikan Liverpool akan menjadi pemenang. Saat menulis catatan ini, saya masih cemas dengan apa yang terjadi selama bulan April ini. 


Saya merasa sedikit tenang dengan mendengarkan lagu Pujiono - Manisnya Negeriku. Harusnya, saya bisa mengenalkan siapa Pujiono. Tapi di google, ada banyak tulisan tentang dia. Usianya 27 tahun, jika ingin mengetahui lengkapnya, silakan bertanya pada google. Saya mendengar lagu Pujiono berulang kali. Beberapa jam yang lalu, saya seperti terjebak dalam tulisan saya yang kemarin. Di bulan April ini, ada banyak peristiwa yang membuat saya cemas. Saya mengira dunia ini akan manis di April, tapi rasanya berbeda. 

*   

Skor masih 1 - 0 untuk Chelsea, Liverpool sedang berjuang mencetak GOL. Saya masih mendengar Pujiono, mendengarkan siulannya dengan cara bersiulnya yang khas. Kedua teman saya mendukung Chelsea, mereka berhenti menuliskan laporan eksperimen mereka demi pertandingan ini. 




Mengakhiri tulisan ini, saya mendengarkan lagu untuk Liverpool. Terakhir, kira-kira Pujiono mendukung siapa, Liverpool atau Chelsea? Atau bahkan dia tak senang dengan bola? Entahlah. 

Di menit ke 69, skor masih 1-0. Sungguh, catatan ini sedang menikmati cerita malam ini.  

2 comments:

  1. Daun Coffee...
    Hm...adalah tongkrongan sehari2 kami. Welcome! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitu ya? Kalau ketemu, tuan rumah wajib traktir nah! hehehehe

      Delete

Powered by Blogger.