April dan Manusia Pencemas

Gunawan Muhammad pernah menuliskan bahwa “Keprihatinan, seperti halnya kebanggaan, juga kecemasan, seperti halnya optimisme—semua itu adalah pertanda rasa ikut memiliki. Atau rasa terpanggil. Barangkali karena tanah air memang bukan cuma sepotong geografi dan selintas sejarah. Barangkali karena tanah air adalah juga sebuah panggilan”

Di bulan April ini, seolah ibu pertiwi tengah memanggil kita untuk sejenak belajar tentang prihatin, belajar tentang kebanggan, kecemasan, juga optimsme. Melalui dua peristiwa penting yakni pada 9 April telah berlangsung Pemilihan Legislatif dan pada tanggal 14 hingga 16 April juga telah berlangsung Ujian Nasional tingkat SMA dan sederajat.

Pemilu legislatif telah melahirkan sejumlah cerita atau berita yang sampai hari ini terus diperbincangkan, diperdebatkan di berbagai media. Mulai dari hitung cepat, koalisi, golput, politik uang, penggelmbungan suara. Peristiwa tersebut menjelaskan kepada kita untuk patut berbangga atau belajar melihat sistem demokrasi yang penuh dengan keprihatinan. Kita juga patut berbangga, meskipun terdengar kabar kecurangan atau hal-hal negatif dalam pemilu legislatif, masih ada sejumlah caleg yang memegang nilai – nilai kejujuran untuk meneggakkan keadilan, juga pemilih yang mulai sadar akan makna sebuah suara yang tak harus dijual.

Kita mungkin akan sedikit cemas atau para caleg yang menghabiskan banyak dana, akan sangat cemas hingga frustasi lantaran apa yang dikeluarkan tidak sebanding dengan apa yang diperoleh. Situasi tersebut jelas akan mengganggu kondisi psikis seseorang. Jika ada caleg yang berambisi menjadi wakil rakyat dan menghalalkan segala cara, dan pada akhirnya tidak mendapatkan semuanya, maka itu adalah hasil dari niat yang hanya ingin memperoleh kekuasaan, bukan untuk rakyat. Wajar saja, jika Tuhan memberikan hasil seperti itu. Tapi, jika  caleg yang menghalalkan segala cara, dan pada akhirnya berhasil mendapatkan kursi, bolehlah kita menyebutnya caleg haram. Kita mungkin akan cemas karena itu, tapi itu menjadi syarat untuk masyarakat agar selanjutnya dapat lebih bijak memaknai kondisi yang ada.

Sedangkan peristwa, Ujian Nasional dengan jumlah paket sebanyak 20 tentu memberikan atmosfer yang menakutkan bagi sebagian siswa. Belum lagi soal yang dibuat dengan standar internasional, sementara pendidikan di Indonesia belum setara, di pelosok daerah masih ada yang menggunakan standar tradisional. Tidak semua siswa memiliki kesiapan psikologis yang sama, dan ketahanan untuk terbebas dari rasa cemas. Proses pendidikan di Indonesia patut dicemaskan, ketika masa depan harus diuji dengan sejumlah tes yang hanya membuat kita kehilangan semangat untuk percaya pada apa yang kita miliki.

Di bulan April, dua peristiwa tersebut telah melahirkan sejumlah generasi pencemas. Namun, dari apa yang dihasilkan bulan April, kita patut untuk belajar Optimisme. Martin Seligman, seorang mantan Presiden Asosiasi Psikolog Amerika dalam penelitiannya mengatakan bahwa optimisme akan memberikan kehidupan yang lebih baik dan mampu memberikan kebahagiaan. Seligman bahkan menuliskan sebuah buku yang berjudul “Learned Optimism: How to Change Your Mind and Your Life” yang ditujukan untuk siapa saja yang ingin menghapus rasa pesimis atau kecemasan terhadap masa depan yang ada. Optimis dan kebahagian ada, karena kita berhasil mengalahkan pesimisme dan kecemasan yang ada.


Selain dua peristiwa tersebut, di Indonesia masih banyak yang membuat kita mudah merasa cemas dan pesimis. Mungkin itu pertanda dari Tuhan, bahwa suatu saat nanti Indonesia akan menjadi bangsa yang dipenuhi kebahagiaan dan juga optimism. Semoga

Dok: Foto Pribadi
*Tulisan ini diterbitkan dalam kolom Literasi, Koran Tempo Makassar, Sabtu 26 April 2014

No comments:

Powered by Blogger.