Warisan

Sumber
Persoalan hidup adalah milik kematian yang memastikan hadirnya lebih dari pilihan yang ada di dalam kehidupan kita masing-masing. Namun, kehadiran kematian bukanlah hal yang begitu menakutkan dan membuat kita harus cemas dengan berbagai kemungkinan. Kita mesti banyak belajar dari pesan kematian itu sendiri. Yann Martel penulis dari Life Of Pi menerangkan perihal kematian bahwa “Kematian selalu membuntuti kehidupan dengan begitu dekat, bukanlah karena keharusan biologis, melainkan karena rasa iri. Kehidupan ini begitu indah, sehingga maut pun jatuh cinta padanya. Cinta yang pencemburu dan posesif, yang menyambar apapun yang bisa diambilnya” 

Dalam setiap agama pun, kematian mendapatkan perhatian yang besar dalam memantapkan akidah serta menumbuh kembangkan semangat pengabdian. Tanpa adanya kematian, manusia tidak akan berpikir tentang apa sesudah mati, dan tidak akan mempersiapkan diri menghadapinya. Karena itu, agama-agama menganjurkan manusia untuk berpikir tentang kematian. 

Penjelasan tentang kematian dan juga dikaitkan dengan agama pernah dituliskan Komaruddin Hidayat dalam bukunya yang berjudul “Psikologi Kematian”. Yang mana, buku tersebut mengajak kita untuk optimis dan tak perlu cemas menghadapi kematian yang begitu dekat. Pada bagian penutup pengantar wacana buku itu penulis menyatakan bahwa "Kesadaran kematian akan melahirkan banyak karya dan peradaban besar manusia. Banyak orang berbuat baik, banyak orang menulis buku, banyak orang melakukan inovasi keilmuan, banyak gedung-gedung megah dan indah dibangun semuanya karena didorong oleh keinginan agar dirinya abadi, untuk mengalahkan kematian yang tidak mungkin dikalahkan”.

Bila kesadaran akan kematian mampu kita temukan, maka sebelum kematian menghampiri ada baiknya kita memikirkan apa yang bisa menjadi warisan untuk anak cucu kita di masa yang akan datang?

***

Mari sejenak memikirkan perilaku Art Buchwald, salah seorang penulis karya-karyanya dapat dilihat dan bisa di baca di Washington Post. Dia sering menulis satir politik. Berkat karyanya itu, ia berhasil memperoleh hadiah Pulitzer pada tahun 1982 dan 1986. Art Buchwald mewariskan pesan humor dalam sebuah video yang ditayangkan setelah dia meninggal. Dalam video itu dia berkata "Hai! Saya Art Buchwald, dan saya baru saja meninggal." Art Buchwald terlihat menjelaskan kesadaran kematiannya dan telah mempersiapkan hal tersebut dengan caranya sendiri.

Dan juga Lakshmi Pratury, salah seorang fitur dalam daftar 100 Wanita Paling Berpengaruh oleh Forbes Asia pada tahun 2010 asal India menerima warisan yang spesial dari ayahnya. Ayah Lakshmi meninggalkan sebuah warisan dari tulisan tangannya melalui surat-surat dan sebuah buku tulis. 

Dua tahun terakhir kehidupan ayahnya, saat sedang sakit, warisan itu pun mulai dituliskan. Dalam tulisan itu berisi tentang kekuatan kelemahan, dan saran-saran untuk Lakshmi sehingga dari warisan itu Lakshmi belajar banyak hal untuk meningkatkan kualitas pribadinya. Salah satu pelajaran yang didapatkan bahwa warisan tidak selamanya harus bersifat materi.  

Lakshmi berpikir bahwa mungkin kita semua perlu meninggalkan anak-anak kita dengan sebuah warisan bernilai, dan bukan yang berhubungan dengan keuangan. Sebuah nilai dari barang dengan sentuhan pribadi, sebuah buku tanda tangan, sebuah surat pencarian jiwa atau beberapa hal yang jauh bernilai dibandingkan dengan keuangan. Lakshmi pun berniat mewariskan kepada anak-anaknya dengan menerbitkan buku catatannya sendiri. Dia berkomitmen mengumpulkan pemikiran ayahnya dan pemikirannya sendiri ke dalam sebuah buku, lalu menerbitkan buku itu dan mewariskannya kepada anak-anaknya kelak.

Kehidupan ini memang penuh dengan keindahan, sehingga maut pun jatuh cinta padanya. Ada baiknya kita menuliskan keindahan-keindahan yang pernah kita temukan di taman kota, di perpustakaan, di senja suatu kota dan berbagai tempat yang pernah kita datangi. Kelak, kita bisa mewariskan dan mengajak anak-anak kita nantinya, memahami nilai-nilai kehidupan yang takkan pernah terbeli dengan uang.  Selamat menuliskan warisan kita masing-masing!


*
Tulisan ini telah diterbitkan di Kolom Literasi, Koran Tempo Makassar, Sabtu, 8 Maret 2014

2 comments:

  1. Saya menuliskan pengalaman jalan-jalan biar selalu teringat dan semoga memberi manfaat kepada siapapun :)
    salam kenal Pak, kalau berkenan mampir ke rumah saya ya :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih pak, semoga terus memberi manfaat.

      Delete

Powered by Blogger.