Sehari Sebelum April

Saya berencana untuk datang ke tempat yang sedikit lebih tenang. Memikirkan perjalanan selama Maret lalu merencanakan langkah selama April. Kota ini tumbuh dengan akar kemegahan yang sedikit membuat saya merasa sedikit cemas, di kepalaku juga tumbuh sesuatu yang aneh menyerupai miniatur kota ini. Di dalam miniatur itu, ada pantai yang ombaknya tak kalah dengan Losari. Juga ada benteng-benteng peninggalan masa lampau yang telah dipenuhi lumut, nyaris roboh dan musnah. Saya tidak ingin ada jalan yang terus dilebarkan hanya untuk memanjakan para pengguna kendaraan yang kian menjengkelkan. Saya melihat itu di dalam miniatur, semua sedang berlomba menjadi asli dengan mempermainkan semua yang palsu.    

Bila kutemukan tempat yang tenang itu. Saya ingin membuka atau mencabut akar yang tengah tumbuh itu. Mungkin akan saya lemparkan di tengah lautan, atau menguburkannya di atas lapangan yang sepi dengan rumput yang tak terawat. Saya juga berkeinginan mencari sebuah warung kopi yang lebih ramah dan tak terlalu ramai. Saya baru sadar, jika saya benar-benar seorang pemalu dan tak selalu kalah dengan ketakutan itu. Ketakutan yang mencuri keramaian di taman kota yang ada di kepalaku. 

Sehari sebelum April, saya merasa ingin pulang menemui beberapa orang yang telah berpulang. Tapi, ibu saya akan berulang tahun di awal April. Saya akan sedikit gelisah jika pulang tanpa memberi sejumlah bingkisan untuk Ibu. Perempuan yang selalu sabar melihat saya menyenangi dunia yang sendiri. Di dalam senyum dan pelukannya itulah, saya menemukan tempat yang selalu tenang. Dan di saat saya ingin mencari tempat yang tenang, saya kesulitan mendapat tempat yang lebih baik. 

                                                                                                                      

Sumber di sini

Makassar, 31 Maret 2014 , 


No comments:

Powered by Blogger.