7 Kiat Berhasil Dalam Seleksi PPAN

Catatan ini hadir sebagai jawaban dari sejumlah pertanyaan perihal Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN), yang mungkin saya jawab dengan terburu-buru di sebuah pertemuan yang disengaja maupun tak disengaja. Bulan Maret hingga April, setiap provinsi yang mendapatkan kuota Pertukaran Pemuda Antar Negara tentu tengah mempersiapkan konsep seleksi dalam memilih dan mendapatkan peserta yang terbaik untuk menjadi perwakilan dari masing-masing provinsi. Dalam hal ini, PCMI yang memiliki tanggung jawab dalam berjalannya agenda tersebut, dan dibantu dengan pihak terkait. 

Selain PCMI tentu para calon peserta yang berencana untuk ikut dalam program PPAN, juga tak kalah sibuknya mempersiapkan diri untuk seleksi. Dua tahun yang lalu, saya pernah mengikuti seleksi PPAN dan diberi kesempatan untuk ikut serta dalam Pertukaran Pemuda Indonesia-Kanada. Menjelang seleksi tentu akan muncul pertanyaan tentang bagaimana melewati tahapan demi tahapan hingga akhirnya menjadi peserta PPAN. Maka dari itu, saya akan membagi 7 kiat berdasarkan pengalaman dua tahun yang lalu. 

1. Niat

Bagi saya, langkah awal yang paling baik adalah dengan memiliki niat baik. Begitu pun dengan seleksi, ketika kita sudah paham dan mengerti dengan jelas tentang niat kita, maka Tuhan akan selalu memberikan petunjuk. Seperti apa yang pernah dikatakan A.Fuadi, "Pasang niat kuat, berusaha keras dan berdoa khusyuk, lambat laun, apa yang kalian perjuangkan akan berhasil. Ini sunatullah-hukum Tuhan."

2. Kesiapan Psikologis

Setelah niat kita jelas, maka langkah selanjutnya adalah kesiapan psikologis. Melihat banyaknya pesaing, kecemasan atau tegang adalah hal yang wajar. Namun, yang terpenting adalah ketika kita mampu merasa yakin dan menang dari perasaan-perasaan itu. Psikologis seorang pemenang akan selalu terus meningkat, mana kala melihat tantangan yang semakin menantang. "Jadilah pemenang sebelum menjadi pemenang!"


3. Melawan Diri Sendiri

Seleksi selalu mencari orang yang terbaik, meskipun kita memenuhi kriteria, namun berhubung tahapan menjadi peserta adalah seleksi maka, hanya yang terbaiklah yang akan terpilih. Mungkin, kiat yang ketiga terdengar klise, namun seperti itulah adanya. Kadang kala kita merasa bahwa yang kita miliki kurang, namun sebenarnya perasaan itu muncul karena kita kurang memahami diri dan tidak berusaha menjadi diri sendiri. Setiap orang memiliki hal yang tidak dimiliki orang lain. Dalam seleksi, lawan paling berat bukanlah peserta lain, tapi diri sendiri yang harusnya dilawan agar kita berhasil menjadi diri kita sendiri bukan orang lain. 

4. "Normal is Boring"

Kadang kala, kita selalu ingin mengikuti apa yang telah ada. PPAN kadang diidentikkan dengan kesenian, harus menari, menyanyi atau bermain alat musik. Bagian itu menjadi salah satu penilaian, tapi tidak selamanya harus menampilkan hal seperti itu. Tampilkanlah apa yang kita miliki, jadilah peserta yang terlihat lebih berbeda dengan membawa potensi yang sesungguhnya. 

5. Belajarlah dari Kekalahan dan Kemenangan

Saya merasa salut dengan beberapa teman saya yang pernah mendaftar beberapa kali hingga akhirnya terpilih menjadi peserta. Mereka selalu belajar dari kegagalan yang dialami, kita bisa belajar dari kesalahan diri sendiri dan juga kesalahan orang lain. Tentu di sekitar kita ada yang pernah ikut seleksi dan mungkin lulus atau tidak lulus. Belajarlah dari mereka, dari siapa pun. Ada cara merayakan kemenangan, tentu ada juga cara merayakan kekalahan. Ada cara merenungi kekalahan, tentu ada cara merenungi kemenangan.  

6. Optimis itu Manis

Bila ada rasa pesimis, atau cemas berlebihan bahwa "saya mungkin akan gagal" hapuskan segera. Tidak ada yang bisa memastikan hasil sebelum kita melakukannya. Sebuah kesesatan berpikir ketika kita merasa kalah sebelum bertanding, apapun yang terjadi kita harus yakin dengan usaha yang telah kita lakukan. Tuhan Maha Melihat, jika kita berusaha dan terus optimis, maka hasil yang didapatkan tentu diberkahi Tuhan. 


7. Doa Orang Tua  

Kiat terakhir adalah doa. Doa kata ayah saya adalah "senjata paling ampuh", mintalah doa dari orang tua atau mungkin guru-guru kita. Semakin banyak yang mendoakan, maka Tuhan akan selalu memberikan jalanNya.  

*

Seperti itulah kiat dari saya, tentu alumni lain punya kiat tersendiri atau teman-teman juga punya cara tersendiri. Selain ini, saya pernah menerima surat-surat dari teman-teman dari berbagai daerah yang bertanya tentang PPIK. Silakan baca di sini.

Terima Kasih telah datang berkunjung dan membaca catatan ini. Kemungkinan besar yang membaca atau mendapatkan link tulisan ini, adalah mereka yang berencana untuk ikut dalam seleksi. Semoga berhasil, dan teruslah berjuang. 

"Setiap pejuang bisa kalah dan terus menerus kalah tanpa kemenangan, dan kekalahan itulah gurunya yang terlalu mahal dibayarnya. Tetapi, biarpun kalah, selama seseorang itu bisa dinamai pejuang, dia tidak akan menyerah. Bahasa Indonesia cukup kaya untuk membedakan kalah daripada menyerah" -Pramoedya Ananta Toer


1 comment:

Powered by Blogger.