"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Friday, February 14, 2014

Pada Empat Kota

2:39 AM Posted by Wawan Kurn No comments
Bila aku ingin menemuimu, 
ada empat kota yang selalu kulewati terlebih dahulu,

kota pertama, segala lampu mampu menerangi kata yang telah dipadamkan resah
kota kedua, seluruh doa dibiarkan berkumpul merayakan harapan 
kota ketiga, selepas magrib pintu ditutup rapat dari segala penat  
kota keempat, setelah pukul sembilan malam, para penyair menari di dalam sajak duka

pada setiap kota itu, selalu ada seorang tua memberiku pesan

kota pertama, temukan namamu jadi cahaya di atas batu nisan perempuan. Panggillah kunang-kunang menemani dan menuntunnya pergi bersembunyi dari sunyi

kota kedua, akan ada kekasih yang selalu menjaga jiwanya hanya kepada dinding bisu di dalam penjara kata di bukumu

kota ketiga, ibumu selalu ingin kau menulis puisi untuk seorang perempuan yang mampu menjagamu setulus puisi menjaga kata

kota keempat, jauhkan dirimu pada bayang-bayang masa lampau yang selalu mengira masa lalu adalah masa depan

sebelum kutinggalkan setiap kota, 

kota pertama, aku berdiri di bawah lampu jalan dan menulis surat untuk kunang-kunang
kota kedua, aku berdoa agar sejumlah kepedihan berlibur lima hari dan aku menulis di penjara
kota ketiga, aku datang bertamu dan ingin membuka pintu dan menulis puisi untuk ibu
kota keempat, aku ingin bertemu beberapa penyair dan mendengarnya berpuisi tentang masa lalu

dan sebelum aku benar-benar menemuimu, 
aku selalu merasakan pikiranku atau memikirkan perasaanku yang melebihi kota-kota itu,
bahwa segala sepi telah menjadi penduduk paling taat, mematuhi nasibnya masing-masing.  




Makassar, 14 Februari 2014

0 comments:

Post a Comment