"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Saturday, February 15, 2014

Bahasa Topeng dan Politikus

11:49 PM Posted by Wawan Kurn No comments
Sejak dilahirkan dan hingga kita menutup usia, kita akan selalu terlibat dalam rangkaian komunikasi yang ada. Peter F. Drucker, seorang penulis, ekolog sosial dan konsultan manajemen pernah berpesan bahwa hal terpenting dalam komunikasi adalah mendengarkan kata-kata yang tak terucapkan. Tindakan komunikasi itu sendiri dapat terjadi dalam berbagai konteks kehidupan manusia, mulai dari yang bersifat individu, kelompok, keluarga, organisasi, hingga dalam konteks publik secara lokal, nasional maupun internasional. Setiap komunikasi menyimpan maksud dan tujuan tersendiri.
  
Harold Lasswell pun mengemukakan tiga fungsi komunikasi,  pertama, pengawasan lingkungan. Kedua, korelasi berbagai bagian terpisah dalam masyarakat yang merespon lingkungan. Ketiga, transimi warisan sosial dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Lasswell kemudian berpendapat bahwa terdapat tiga kelompok spesialis yang bertanggung jawab melaksanakan fungsi-fungsi ini. Misalnya pemimpin politik dan diplomat termasuk ke dalam kelompok pengawas lingkungan. Lasswell memandang bahwa suatu proses komunikasi selalu mempunyai efek atau pengaruh. Sehingga, model Lasswell ini menstimuli riset komunikasi di bidang komunikasi politik.

Gabriel Almond dalam bukunya The Politics of the Development Areas menyatakan bahwa komunikasi politik adalah salah satu fungsi yang selalu ada dalam setiap sistem politik. Menjelang pesta demokrasi yang sebentar lagi kita laksanakan, komunikasi politik akan dengan mudahnya ditemukan, baik komunikasi yang berbentuk verbal hingga non-verbal. Komunikasi akan hadir dalam simbol-simbol yang sebisa mungkin berusaha untuk menyampaikan pesan guna mendapat dukungan sebanyak mungkin.

Para politikus akan bermain pada persona masing-masing demi mencapai visi yang telah diciptakan. Namun, dalam proses tersebut para politikus cenderung mengalami berbagai gangguan. Seperti yang pernah dijelaskan Mochtar Pabotinggi dalam bukunya “Komunikasi Politik dan Transformasi Ilmu Politik” bahwa dalam praktek proses komunikasi politik sering mengalami empat distorsi.

Pertama, distorsi bahasa sebagai "topeng"; ada euphemism (penghalusan kata); bahasa yang menampilkan sesuatu lain dari yang dimaksudkan atau berbeda dengan situasi sebenarnya, bisa disebut seperti diungkapkan Ben Anderson, "bahasa topeng". Kedua, distorsi bahasa sebagai "proyek lupa"; lupa sebagai sesuatu yang dimanipulasikan; lupa dapat diciptakan dan direncanakan bukan hanya atas satu orang, melainkan atas puluhan bahkan ratusan juta orang. Ketiga, distorsi bahasa sebagai "representasi"; terjadi bila kita melukiskan sesuatu tidak sebagaimana mestinya. Keempat, distorsi bahasa sebagai “ideologi”.

Persona yang pernah dijelaskan oleh Carl Gustav Jung akan menjadi hal menarik untuk kita pahami, bahwa patut kita sadari setiap persona dalam komunikasi politik akan sering bahkan selalu muncul dalam waktu dekat ini. Persona dalam pandangan Jung disebut sebagai sistem individu terhadap dunia, atau sikap-sikap yang diambil untuk berurusan dengan dunia. Setiap panggilan atau profesi misalnya, memiliki karakter personanya sendiri-sendiri.

Hanya saja, sisi negatifnya adalah bahwa orang –orang akan menjadi identik dengan persona mereka. Profesor dengan buku pelajarannya, penyanyi tenor dengan suaranya, politikus dengan kampanye-kampanye pro-rakyat. Dengan sedikit agak berlebihan, dapat dikatakan bahwa persona adalah kita yang pada realitanya bukan kita, namun kita yakini atau orang lain yakini sebagai diri kita.

Persona memiliki makna dasar sebagai topeng, tanpa disadari bahwa diri kita hidup dalam persona yang diciptakan lingkungan. Bahkan dengan persona, kita mungkin saja akan kehilangan diri kita yang sebenarnya. Para politikus semoga tidak membentuk persona baru di masyarakat dengan menggunakan persona yang telah melekat sangat erat. Semua itu terjadi karena keinginan menduduki kekuasaan terlampau besar menutupi realitas yang ada dalam dirinya, hingga apa yang ada di dalam dirinya saat ini hanya sebatas persona, dengan bahasa topeng yang terus digunakan semakin memperlihatkan kondisi sebenarnya. 


Maka, mengenal diri sendiri adalah awal dari segala kebenaran. Socrates pernah mengatakan gnooti seauton atau know yourself. Sebab dengan mengetahui diri kita sebenarnya, maka dapat menjadi titik tolak bagi seseorang untuk mengenal kebenaran dalam realitas hidupnya. Kebenaran diri merupakan kacamata sehingga dapat berkomunikasi dengan sesamanya tanpa topeng. Akhirnya, orang yang mengenal dirinya adalah orang yang akan tahu menempatkan dirinya dalam seluruh realitas alam semesta.  


------------------------------
Catatan: Tulisan ini dimuat pada kolom Literasi Tempo Makassar, pada Sabtu (15 Ferbruari 2014). Beberapa tulisan yang pernah dimuat sebelumnya dapat dibaca di sini. 

0 comments:

Post a Comment