Suatu Pagi di Januari

Pada suatu pagi di bulan Januari, aku terbangun dan melamun membayangkan tubuhku kaku dan melihatnya selama beberapa menit. Buku-buku yang berantakan telah kurapikan dua hari sebelum pagi iu. Setelah melamun dalam waktu yang singkat, kuputuskan untuk pulang ke kampung, menempui beberapa orang yang kulihat datang di dalam lamunanku.

Aku membawa beberapa buku yang tipis, dan telah memisahkan buku pilihan yang ingin kusimpan dan kuletakkan dalam kotak berwarna putih. Tentu, aku ingin membacanya dalam perjalanan pulang. Sebelum siang, kurapikan pakaian yang ada di dalam kamar. Kuambil pakaian yang masih ada di jemuran, melipatnya rapi lalu menyimpannya di lemariku yang berwarna coklat tua. 

Mungkin aku akan pulang sore hari, sebelum matahari memanggil berkas-berkas cahayanya. Sementara itu, aku memikirkan lamunanku dan tubuhku yang serasa berbeda setelah lamunan itu. Untuk menghilangkan pikiran yang ganjil, kulepaskan semuanya dengan memanggil diriku yang masih kanak-kanak. Aku ingin bermain sebelum pulang dan menjadi seorang yang lain dari biasanya. 

Kupanggil diriku sebanyak ketakutanku yang menjadi cemas. Saat pulang, sebentar lagi tiba. Seorang yang lain belum bisa datang menemui dan menemani diriku yang penuh dengan keluh. Kumainkan lagu kesukaanku di tahun 2010 dan kudengarkan baik-baik. Mungkin, di dalam alunan itu ada seorang lain yang juga bisa membantuku membawa apa yang kucari dan kutanyakan pada suatu pagi di Januari. 



*
"Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan pula engkau terlalu mengulurkannya nanti kamu menjadi tercela dan menyesal" Al-Isra: 17: 29 

Aku menuliskan beberapa hal yang ingin kujaga hari itu. Sambil membayangkan, aku menemukan bayangan tentang pagi di hari esok akan menjelma dua buah ikan yang kutemukan gambarnya pada mesin pencari. Menari dan mencari apa yang aku inginkan di sebuah pagi yang matahari juga berikan namun tidak harus aku miliki tapi wajib untuk aku pahami. 

Pagi ini, apa pun yang kutulis adalah sejenis perasaan rindu pada diri sendiri yang terkadang mampu mengabaikan jiwanya demi seorang lain atau beberapa orang di luar dirinya. Setelah ini, kulanjutkan bacaanku dan keinginanku untuk pulang. Akhir-akhir ini aku berencana untuk pulang, namun selalu saja ada hal yang membatalkan semuanya. Sebelum Januari berakhir, aku akan pulang. 

No comments:

Powered by Blogger.