"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Saturday, January 25, 2014

Persinggahan Perangai Sepi [Versi Cermin]

9:57 AM Posted by Wawan Kurn 4 comments
Akhir-akhir ini aku memandangi buku bersampul putih dengan tambahan ilustrasi berwarna hijau di atas meja belajarku. Ukurannya 13 x 19 cm dengan tebal sekitar empat cm, buku ini belum juga aku baca, kecuali halaman pertama yang bertuliskan ucapan selamat ulang tahun dan beberapa kalimat manis tentang buku.

“Bunuh aku di tengah buku-buku, mungkin di sana aku hidup selamanya” 

Aku menyukai pesan yang menemani ucapan selamat ulang tahunku itu. Namun, aku tak membaca halaman selanjutnya, lantaran aku belum menguasai bahasa dalam buku itu, bahasa Jerman. Buku itu dihadiahkan Andini, perempuan yang dua tahun lalu kukenal di lomba debat bahasa Inggris tingkat Nasional di Jakarta. Sejak itu, kami saling menjaga komunikasi meski hanya sebatas pesan singkat atau chat melalui sosial media. Saat ini, masing-masing dari kami mulai sibuk untuk menentukan pilihan selanjutnya, perpindahan dari dunia SMA menuju dunia kampus sebentar lagi. 

Perihal buku itu, sengaja dia memilih buku itu karena pernah mendengar keinginanku untuk belajar bahasa Jerman.  Di  Eropa bahasa Jerman adalah bahasa ibu yang paling luas digunakan. Aku juga berharap suatu saat nanti bisa berlibur atau mungkin menetap di Jerman, mungkin keinginan itu terinspirasi dari Habibie dan Ainun yang berhasil merajut cintanya di sana. Entah siapa yang akan jadi Ainun untukku, apa mungkin Andini? Aku kadang berharap lebih tanpa melihat realita yang sesungguhnya. 

Dulu ketika dia memberikan buku itu, ada beberapa potongan percakapan yang masih kuingat. 
“Aku beli ini di toko buku yang punya banyak koleksi buku puisi”
“Kenapa bukan buku puisi yang kamu pilih?”
“Sepertinya buku ini lebih menarik, tentang psikologi”

Andini selalu berpesan bahwa selepas SMA, psikologi adalah jurusan yang pas dengan kepribadianku. Kepribadian yang senang belajar tentang kepribadian. Sepertinya kesimpulan Andini itu keliru. Bagaimana bisa aku mempelajari kepribadian orang lain, padahal kepribadianku sendiri kadang sulit aku pahami. 

“Kamu juga terlalu cuek. Siapa tahu di psikologi kamu bisa lebih peka” 
“Maksud kamu apa? Cuek dan tidak peka?”

Andini tak menjawab selain tersenyum, dan mengalihkannya ke topik lain. Hingga pertemuan hari itu berakhir, aku tak menemukan jawabannya.  

*

Hari ini, Andini ulang tahun 25 Januari. Aku juga berniat melakukan hal yang sama dengan apa yang telah dia lakukan dua bulan yang lalu. Sekaligus ingin berterima kasih karena berkat bukunya aku mulai mahir menggunakan bahasa Jerman. Kuhubungi Andini, sejak tiga hari yang lalu tapi baru pagi tadi aku mendapatkan kabar darinya, bahwa hari ini dia belum bisa memastikan datang atau tidak. 

“Kalau jadi, kita ketemu di mana?”
“Mungkin di cafĂ© atau kita jalan-jalan ke museum?”
“Haha, baiklah. Nanti akan aku kabari. Kadonya bagaimana?”
“Adalah”

Baru hari ini aku kembali menjalin komunikasi dengan Andini, setelah beberapa bulan yang lalu sepertinya aku sibuk dengan urusan OSIS dan beberapa les di luar sekolah. Aku sengaja mempersibuk diri, untuk melupakan bayangan dan perasaan aneh tentang Andini, perasaan yang lebih kepada harapan bila saja suatu hari nanti dia akan menjadi Ainun untukku.

Hari ini, aku juga punya rencana lain, tidak sekedar memberi hadiah untuk Andini. Rencana itu adalah usaha menyatakan harapanku, mengutarakan perasaanku. Baiklah, sudah kuputuskan bahwa hari ini akan jadi hari bersejarah. Akhirnya, pesan Andini tiba dan memintaku menunggunya di Gramedia yang berdekatan dengan bioskop.     

“Maaf ya, nanti aku cuma bisa sebentar”
“Sip, sebentar atau lama yang penting ketemu” jawabku ikhlas.

Aku datang lebih awal. Perasaanku mulai diserang cemas, masih memikirkan cara yang tepat sehingga aku bisa menyatakan semuanya pada Andini. Tiba-tiba dari samping, Andini menyentuh pundakku dan menyapaku pelan.

“Hei, dari tadi ya? Oiya, kenalkan ini Rizal”

Seorang yang menemani Andini itu membuat isi kepalaku berantakan, perasaanku berkecamuk, lebih aneh dari kemarin. Strategi kemarin sirna, aku senyum ala kadarnya. Aku kemudian memberikan kado untuk Andini, lalu berkenalan dengan Rizal. Seketika musnah apa yang ada dipikiranku sejak tiga hari yang lalu. Sepertinya, Andini telah menemukan Habibienya dan bukan aku. 

“Sekarang kami mau nonton film, mau ikut tidak?” 
“Tidak, setelah ini aku juga ada agenda lain”
“Ok, Terima Kasih ya Kadonya”
“Have Fun ya”

Aku melihat mereka berdua berjalan sambil tertawa, sangat bahagia. Sementara di hatiku, air mata mengalir dalam kesepianku. Tiba-tiba aku merasa sangat sepi, aku menjadi perangai sepi di akhir Januari dan entah sampai kapan. Tapi, aku tetap berharap, menemukan hati lain yang nantinya menjadi persinggahan perangai sepi. 


______________________________

Tulisan ini dimuat di kolom Cerita Mini, Keker Fajar, Sabtu 25 Januari 2014

4 comments:

  1. Kalimat yang memuat kata2 "sepi" terulang2 berapa kali. Ah... Mengurangi greget endingya. Ceritanya sederhana.Keren.!

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul sekali mba, makasih untuk masukannya. Semoga saya bisa menulis lebih baik dari ini. :)

      Delete