Dua Buah Puisi Sepi


Hujan Januari 

tentang kesepianku yang dirindukan jatuhnya hujan

kulihat dari balik jendela
dia seorang diri, berdiri di tengah hujan
menghadapkan wajah pada jauhnya langit
yang dengan sengaja menghukum hujan
agar datang menemuinya, rindunya

tentang kesepianku yang dirindukan seseorang
sesekali sehabis petang dia belajar
menanggalkan kesepiannya dengan mengutuk diri
mencari letak pengharapan langit

kau, perempuan berpayung mendekat pelan
perlahan meneduhkan dan menyentuh bayangannya

ini tentang sepi, mungkin sepi kita masing-masing

hujan masih jatuh dan aku tetaplah jauh
kesepian yang dirindukan telah beranjak
mengikuti jarak di sebuah kota hujan

tentang sepiku
kau tahu bahwa letaknya
telah dihinggapi jejak – jejak hujan januari
dan sembuh setelah maret
merayakan kelahiran kita bersama sepi

juga kau yang hadir sebagai rindu
datanglah sebagai payung 
untuk sepiku yang masih kehujanan

kulihat dari balik jendela

dia seorang diri, berdiri di tengah hujan

Makassar, 15 Januari 2014



Pulang

Sendirilah
menyanyikan lagu tentang
kepulangan rindu
yang tiba pada persimpangan

sendirilah
merayakan perpisahan dengan sedih
di sebuah kota tua
tempat kisah lama terjalin

sendirilah
menyandarkan sekumpulan
resah yang menawan
dan melawan ingin kita

sembari langit mendoakan
hujan agar setia
dan mampu mencintai
perjalanan pulang
jika rindu memenggal jarak
menjadi temu

sendirilah
untuk sementara waktu
sementara separuh jiwamu
di jaga seorang yang juga menjaga
kesendiriannya

Kesendirianmu biarkan bertemu rindu
seorang yang memagari jiwanya
dengan kesepian, kecuali untukmu

                  Makassar, 14 Januari 2014

No comments:

Powered by Blogger.