"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Monday, December 23, 2013

Surat Psyche

6:16 AM Posted by Wawan Kurn 2 comments

"Aku benci bulan Desember, dan beberapa hal yang berakhir dengan terburu-buru"

Bulan ini saya merasa tak mampu lebih baik, dari seorang gadis kecil yang menemani bonekanya berbicara sendiri. Saya juga merasa tak mampu lebih baik dari payung tua yang disimpan di gudang, kemudian dibiarkan terkembang di akhir tahun ini. Beberapa hal sepele membuat saya harus berpikir lebih lama. Hujan memancing saya jatuh ke dalam genangan yang berisikan selusin kemalasan bahkan lebih dari itu.

Saya masih berpikir, memikirkan hal-hal sepele.  

Saat menulis catatan ini, saya tengah berada di sebuah cafe ditemani dengan segelasavocado coffee. Saya merasa sangat bodoh. Akhir-akhir ini banyak rencana yang gagal dan tak berjalan sesuai rencana. Mungkin karena saya yang selalu terburu-buru. Saya lebih senang menghabiskan waktu di jalanan, atau di dalam kamar mengurung diri dari hujan yang semakin ramai. Saya juga memikirkan cara agar mampu menciptakan hujan di dalam kepala saya, ada ruang yang amat kering hingga saya tak lagi bisa jadi periang. 

Di cafe ini, saya menyusun beberapa rencana namun kemudian tidak berjalan dengan baik. Saya merasa kekalahan telah tiba di akhir tahun. Saya kalah dengan diri saya yang malas, dan tak mampu sembuh dengan cepat. Mungkin karena kemalasan itu pula, saya gagal merawat tubuh saya yang mulai diserang beberapa penyakit sepele, ibu saya marah. Target akhir tahun kemudian terbengkalai dengan sendirinya.  

Malam kemarin, saya bermain game catur via handphone sambil menunggu pesanan, beberapa tusuk sate dan potongan-potongan lontong. Peristiwa itu juga dipenuhi dengan pikiran yang kalut tapi hujan mampu membalutnya lebih rapi. Minggu kemarin, saya datang ke bioskop dan menyaksikan beberapa adegan yang tidak menyenangkan, tapi kepalaku jauh lebih tidak menyenangkan. 

Bila hujan masih lama dan mampu menahan saya pada teduh, ada banyak hal yang ingin kuselesaikan segera.

Mungkin ini adalah catatan terakhir saya, saya ingin belajar mengirim surat untuk diri saya sendiri. Sebagaimana gadis kecil yang mampu berbicara dengan bonekanya. Saya ingin belajar mencipta hujan pada kemarau yang panjang di kepalaku. Sebelum meninggalkan cafe ini, saya berharap paragraf pertama surat saya mampu terselesaikan. 

Selamat menyambut dan menikmati perubahan, pelan-pelan saya juga ingin menemukan perubahan itu sebelum saya dikalah lagi dan menyatakan berbagai perasaan yang aneh dan lelah. 

Selamat kawan :)                                                                                     


Makassar, 23 Desember 2013 

2 comments: