"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Saturday, December 7, 2013

Schwann dan Pesan Psikologi Sel

5:57 AM Posted by Wawan Kurn No comments
Pada tahun 1665, Robert Hooke pertama kali mendeskripsikan dan menamai sel ketika ia mengamati suatu irisan gabus (kulit batang pohon ek) dengan mikroskop yang memiliki perbesaran 30 kali. Namun demikian, teori sel sebagai unit kehidupan baru dirumuskan hampir dua abad setelah itu. Hingga kemudian seorang seorang ahli ilmu faal Jerman Theodor Schwann mengambil peran penting dalam pengembangan teori sel.

Ketika mempelajari sel, ada sebuah pesan yang dititipkan Tuhan pada kita. Bahwa sel memiliki sebuah karaktersitik yang belum tentu kita miliki. Karakteristik sel yang saya maksud dapat kita temukan saat kita memahami proses mekanisme transportasi zat-zat keluar masuk sel dan mekanisme komunikasi antar sel. Ada kalanya sel menghasilkan zat yang menjadi sinyal bagi sel lain, bahwa terdapat sebuah bahaya. Zat itu akan dikeluarkan bila sel diserang virus atau bakteri yang membahayakan kondisi tubuh.

Arti sinyal itu tak lain sebagai isyarat bagi sel untuk bertanggung jawab dengan memakan sel atau melakukan bunuh diri agar tidak menyebar bakteri atau virus di dalam tubuh. Dengan begitu sel tersebut berhasil menyelamatkan jaringan, organ dan manusia itu sendiri. Bisa saja kita beranggapan bahwa satu sel itu tidak berarti apa-apa, namun sebenarnya setiap sel memiliki peran dalam menjaga keseimbangan, homeostatis pada tubuh manusia.Sel itu menjadi “korban” sekaligus menjadi “penyelamat”. Perilaku sel patut menjadi teladan bagi kita untuk belajar berkorban dengan tulus di lingkungan sekitar.

*
Sikap rela berkorban adalah perilaku yang mungkin akan punah ketika zaman mengajak kita lebih bersifat individualis. Dalam buku “Catatan Seorang Demonstran”, Soe Hok Gie menyatakan bahwa “sekarang aku berpikir sampai di mana seseorang masih tetap wajar, walau ia sendiri tidak mendapatkan apa-apa. Seseorang mau berkorban buat sesuatu, katakanlah, ide-ide, agama, politik atau pacarnya. Tapi dapatkah ia berkorban buat tidak apa-apa”  

Belajar dari apa yang Panglima Besar Sudirman telah lakukan. Beliau berhasil mendapat dukungan dan kesetiaan dari prajuritnya dan rakyat karena dia memberikan pengorbanan yang sangat besar. Dalam keadaan sakit, beliau tetap memimpin para prajurit berjuang mempertahankan kemerdekaan dengan kebersamaan yang tinggi antara tentara dengan rakyat. Selain Jenderal Sudirman, Marthin Luther King, Mahatma Gandhi, Bunda Theresa mencapai titik yang luar biasa karena pengorbanan diri mereka.  Dalam berkorban mampu menjadikan mereka dikenang dan abadi.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Francesca Righetti di Vrije Universiteit Amsterdam menemukan bahwa salah satu hal yang membuat seseorang melakukan sebuah pengorbanan adalah pengaruh dari self control. Seseorang yang memiliki self control yang baik mampu untuk melakukan pengorbanan, sedangkan bagi yang kurang memiliki self control, lebih cenderung memikirkan keinginannya sendiri tanpa peduli dengan orang lain.

Menjelang pesta demokrasi 2014, ada banyak orang yang berlomba-lomba untuk menampilkan dirinya di tengah masyarakat. Berusaha untuk mendapatkan perhatian dan dukungan dengan berbagai cara. Salah satu hal yang memperlihatkan bahwa Self Control seseorang lemah adalah ketika hanya mampu berbicara namun tidak mampu memperlihatkan bukti dari pernyataan yang kaya dengan janji-janji politik.  Ingin mendapatkan hal besar tanpa mengorbankan hal yang sebanding. 

*


Hari ini merupakan tanggal lahir dari Theodor Schwann, 7 Desember. Saat kembali mengenang dan merenungi temuan yang telah dihasilkan oleh Schwann, sebenarnya kita telah diajak untuk yakin dan percaya bahwa Tuhan telah menyimpan banyak pelajaran dari setiap hal yang diciptakan. Bila kita tak mampu memahami dan bercermin dari unit terkecil dalam tubuh kita sendiri, betapa menyedihkannya kehidupan kita. Kita mesti bertanya pada diri kita masing-masing, apakah psikologis kita lebih baik dari psikologis sel itu sendiri?

______________
Catatan: Tulisan ini dimuat pada kolom Literasi Tempo Makassar, pada Sabtu (7 Desember 2013). Beberapa tulisan yang pernah dimuat sebelumnya dapat dibaca di sini. 

0 comments:

Post a Comment