"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Saturday, December 7, 2013

Resiliensi dalam Interaksi Sosial

5:52 AM Posted by Wawan Kurn No comments

Untuk kawasan Asia Tenggara, HIV menjadi masalah kesehatan publik yang paling utama. Dengan perkiraan 3,6 juta orang dengan HIV/AIDS (ODHA), Asia Tenggara adalah kawasan kedua di dunia yang paling terpengaruh. Terdapat sekitar 260.000 orang yang baru terinfeksi HIV dan 300.000 kematian yang berhubungan dengan HIV pada tahun 2007. Lima negara – India, Thailand, Myanmar, Indonesia dan Nepal – merupakan mayoritas dari beban regional ini. Kasus HIV tertinggi terjadi di antara para pekerja seks dan klien mereka, lelaki yang berhubungan dengan sesama jenis, dan para pengguna jarum suntik narkoba.

Di Indonesia, sejak pertama kali ditemukan tahun 1987 sampai dengan Maret 2013, HIV-AIDS tersebar di 348 (70%) dari 497 kabupaten/kota di seluruh provinsi di Indonesia. Provinsi pertama kali ditemukan adanya kasus HIV-AIDS adalah Provinsi Bali, sedangkan yang terakhir melaporkan adalah Provinsi Sulawesi Barat pada tahun 2011.

Saat ini kondisi Makassar patut menjadi perhatian. Selama 2012, ditemukan 1.101 penderita baru virus mematikan itu. Dinas Kesehatan Kota Makassar mencatat jumlah pengidap HIV/AIDS akhir 2012 sebanyak 5.119 orang. Jumlah tersebut meningkat drastis dibanding data penderita HIV/AIDS Kota Makassar pada 2011 sebanyak 4.018 orang. Setiap tahun jumlah pengidap HIV/AIDS di Makassar rata- rata meningkat 1.000 orang.

Interaksi Sosial
Walgito menyatakan bahwa interaksi sosial merupakan hubungan antara individu satu dengan yang lainnya, individu satu dapat mempengaruhi individu lain atau sebaliknya, sehingga terdapat hubungan saling timbal balik, hubungan tersebut dapat terjalin antar individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok.

Tentunya kita harus menyadari bahwa pada penderita HIV/AIDS atau ODHA membutuhkan interaksi sosial yang nantinya dapat membangun sebuah kepercayaan diri dan optimism untuk menjalani kondisi yang ada. Namun sayangnya, masyarakat terkadang menciptakan stigma negatif terhadap para penderita. Hal tersebut akan menjadi beban psikologis yang malah akan memperparah kondisi kesehatan penderita.
Kondisi tersebut disebabkan oleh ketakutan yang kemudian menimbulkan kecemasan, bahwa penyakit tersebut belum dapat disembuhkan. Dan juga masalah moril penderita yang kadang dikaitkan dengan seks bebas dan penyalagunahan obat terlarang, penyakit itu dianggap seperti kutukan dari Tuhan dengan alasan bahwa ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) merupakan yang telah melanggar aturan agama.

Resiliensi
Diskriminasi seperti itu sekiranya dapat dikikis dengan cara memastikan bahwa hak-hak ODHA dapat terpenuhi. Tentu saja, bila kondisi tersebut dibiarkan maka akan memberikan tekanan atau stress pada penderita. Dalam dunia psikologi, dikenal sebuah istilah yang disebut Resiliensi. Grotberg dalam bukunya yang berjudul “A Guide To Promoting Resilience” mendefinisikan resiliensi sebagai kapasitas yang bersifat universal. Individu, kelompok ataupun komunitas memiliki kapasitas tersebut untuk mencegah, meminimalisir ataupun melawan pengaruh yang bisa merusak saat mereka mengalami musibah.

ODHA dapat menemukan resiliensi dengan adanya dukungan sosial, yang nantinya memberikan sebuah kekuatan untuk lebih optimis dan yakin untuk dapat mengatasi atau menerima kondisi yang dialami. Setidaknya, dengan adanya resiliensi pada ODHA dapat memperbaiki keadaan agar tidak terus menerus berada pada posisi yang disudutkan.

Dukungan sosial merupakan faktor penting dalam mengurangi stress. Pierce (Kail and Cavanaug, 2000) mendefinisikan dukungan sosial sebagai sumber emosional, informasional atau pendampingan yang diberikan oleh orang- orang di sekitar individu untuk menghadapi setiap permasalahan dan krisis yang terjadi sehari- hari dalam kehidupan. Diamtteo (1991) mendefinisikan dukungan sosial sebagai dukungan atau bantuan yang berasal dari orang lain seperti teman, tetangga, teman kerja dan orang- orang lainnya.

Sarafino menyatakan bahwa dukungan sosial mengacu pada memberikan kenyamanan pada orang lain, merawatnya atau menghargainya. Pendapat senada juga diungkapkan oleh Saroson (Smet, 1994) yang menyatakan bahwa dukungan sosial adalah adanya transaksi interpersonal yang ditunjukkan dengan memberikan bantuan pada individu lain, dimana bantuan itu umunya diperoleh dari orang yang berarti bagi individu yang bersangkutan.

Dukungan sosial dapat berupa pemberian infomasi, bantuan tingkah laku, ataupun materi yang didapat dari hubungan sosial akrab yang dapat membuat individu merasa diperhatikan, bernilai, dan dicintai. Hal tersebut sangat diperlukan oleh ODHA agar mereka bisa berbesar hati dan tetap menjalankan aktivitasnya, mengingat sebetulnya mereka memang masih punya banyak waktu sebelum sakit.


Masyarakat seringkali tidak sadar telah menyikapi AIDS dengan cara yang salah. Mereka lupa bahwa ODHA juga manusia biasa yang punya perasaan, punya keluarga dan punya keinginan-keinginan untuk berkarya dan mencapai sesuatu dalam hidupnya. Oleh karena itu, mereka tidak bisa dikucilkan begitu saja seperti masyarakat pada zaman dahulu mengucilkan penderita kusta dalam suatu lembah terpencil untuk menanti ajalnya dalam komunitas mereka. Mereka justru harus didukung untuk dapat melanjutkan dan menikmati hidupnya seperti juga kita semua.

______

Tulisan ini diterbitkan pada Koran Harian Fajar pada kolom Opini, 1 Desember 2013

0 comments:

Post a Comment