"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Saturday, December 28, 2013

Mengenang Perempuan Desember

6:45 PM Posted by Wawan Kurn 1 comment
Saat ini aku mengidap penyakit sepi stadium empat. Terlebih saat menjelang akhir Desember seperti ini, ada perasaan ganjil yang tiba-tiba datang menjadikan semuanya lebih parah. Penyakit sepi yang awalnya biasa-biasa berubah menjadi parah. Semua itu dimulai setahun yang lalu, saat seorang perempuan mengajakku datang menemaninya, menuntaskan rasa penasaran pada sebuah film baru yang akan ditayangkan hari itu juga. Aku menerima ajakannya, menemaninya ke bioskop.

Aku bertemu dengannya dan menghabiskan waktu selama beberapa jam. Saat film tengah ditayangkan, sesekali aku dan perempuan itu saling berbisik, berbincang dengan suara pelan-pelan, membahas hal yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan cerita dalam film. Potongan persitiwa itu memang terjadi di akhir Desember tahun lalu, namun semuanya masih jelas dalam ingatanku. Malam itu, penyakit sepi yang kuidap terobati, namun setelahnya dan hingga hari ini penyakit itu tetap ada.
*
“Akhirnya ketemu juga”
“Laki-laki itu buaya, saya malas ketemu dengan buaya”
“Termasuk saya?”
“Hmm, semua laki-laki. Titik!”  

Nama perempuan itu Lia, sesungguhnya aku lupa kapan dan bagaimana aku bisa mengenalnya. Entah bagaimana cara Tuhan mempertemukan aku dengannya. Sebelum aku menemui dan menemaninya, Lia selalu bercerita tentang lelaki menyebalkan namun juga lelaki yang dia sayangi. Alasannya bercerita, mungkin, karena aku calon psikolog dan dia mungkin percaya bahwa aku bisa membantunya. Ada banyak kemungkinan antara aku dan Lia.

Sebenarnya, pertemuan aku dan Lia pernah kami rencanakan sebelumnya, sejak beberapa bulan yang lalu. Namun karena kesibukan masing-masing, kami kemudian menundanya beberapa kali. Hingga aku mengira pertemuan ini tak pernah ada. Waktu itu, aku disibukkan dengan tugas kuliah yang menumpuk menjelang akhir semester, sementara Lia disibukan dengan tugas sebagai mahasiswa baru di Fakultas Kedokteran. Pertemuan calon dokter dan calon psikolog adalah hal yang terbilang rumit, itu menjadi kesimpulan kami berdua. 

“Setelah nonton, ada agenda lain atau kita langsung pulang?” tanyaku
“Filmnya selesai jam berapa kak?”
“Mungkin tiga puluh menit lagi”
“Oiya kak, ada tulisan yang ingin kuperlihatkan”
“Boleh”

Selepas film, aku dan Lia singgah di sebuah restoran dekat bioskop. Kami berdua memesan jus alpukat. Jus kesukaan kami berdua. Akhir-akhir ini Lia ingin kembali menulis setelah sebelumnya sibuk dengan aktivitas yang padat. Aku senang mendengar kabar itu. Kami pun kembali memulai perbincangan, juga cerita tentang lelakinya.

“Bagaimana dengan buayamu?”
“Menyebalkan, kakak juga buaya”
 “Hah…saya termasuk buaya?”
“Hmm, sepertinya”
“Wah, kamu betul-betul keterlaluan”
 “Tidaklah kak, anggap saja saya masih berumur 11 tahun sedang berceloteh namun tampak seperti 22 tahun. Saya berpikir 7 tahun lebih muda dan tampak 4 tahun lebih tua” jelasnya
“Sepertinya yang kamu bilang barusan ada benarnya”

Lia menceritakan lelakinya, tentang pertemuannya dan perasaan tulusnya kepada lelaki itu. Saat itu juga, ada perasaan ganjil yang tiba-tiba menjadi sesak di dalam dadaku. Aku tahu bahwa dia menyukai orang itu, sangat menyukainya. Kesimpulan itu malah membuat dadaku semakin sesak. Mungkin karena aku berharap lelaki yang mendapatkan ketulusannya adalah aku, diam-diam aku telah terperangkap pada rasa itu. Tapi sepertinya harapan itu adalah bunga yang telah layu sebelum berkembang. Sudahlah, Lia tidak menyukai lelaki pengidap penyakit sepi sepertiku.

Meskipun demikian, malam itu membuatku mampu tertawa lebih ringan, menjadikan waktuku serasa lambat seperti langkah kura-kura berumur tua. Pikiranku terjebak rapi pada perasaan yang meraba-raba banyak pertanyaan serta pernyataan untuknya. Entah perasaan semacam apa itu.
*
Kemarin, aku datang ke tempat pertemuanku dengan Lia setahun yang lalu. Memesan jus alpukat dan membaca beberapa catatan kuliah. Aku menunggu Lia, berharap Lia lewat tanpa sengaja dan melihatku, namun Lia tak kunjung datang, pertanyaan dan pernyataan yang ingin kusampaikan setahun lalu sepertinya tak akan bernasib baik. Kalau saja, setahun lalu kusampaikan langsung, mungkin tidak akan seperti ini ceritanya. Aku juga tak berani lagi mengajaknya untuk bertemu.

Aku tak yakin akan bertemu lagi dengan Lia, bulan depan aku harus segera berangkat ke Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat, melanjutkan kuliah meraih gelar psikolog. Kabar terakhir tentang Lia, dia kembali menjalin hubungan dengan lelaki yang pernah dia ceritakan. Mahasiswa kedokteran yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di Bandung, lelaki idamannya tempat dia menyimpan ketulusannya.  

Desember selanjutnya, aku yakin bayangan Lia akan kembali hadir bersama salju, melayang lembut satu per satu, sebelum akhirnya luruh dan menghamburkan pandangan. Dalam sekejap mata, pandanganku akan menjadi putih pucat dan menyadarkanku bahwa selamanya, Lia hanyalah kenangan dan bayangan. Lia adalah perempuan Desember bagi ingatanku yang rapuh dan perasaanku yang selalu merindunya.

_____________________________________________
Diterbitkan di Kolom Cermin Keker, Koran Harian Fajar 28 Desember 2013 

1 comment: