Desember dan Surat untuk Ibu


“Ibu adalah kata yang paling indah dalam bibir umat manusia” Kahlil Gibran

Pada mulanya, 22 Desember yang diperingati sebagai Hari Ibu, diawali dengan pertemuan para pejuang wanita mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22 sampai 25 Desember 1928 di Yogyakarta. Sedangkan untuk organisasi perempuan pertama telah ada sejak tahun 1912, yang diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita seperti Cut Nya Dien, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Rangkayo Rasuna Said, M.Christina Tiahahu dan lain-lain.

Peristiwa-peristiwa yang terkait dengan pergerakan perempuan menjadi penting dan diharapkan mampu memberikan sumbangsih positif dalam menciptakan perubahan. Hingga penetapan 22 Desember sebagai perayaan hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Presiden Soekarno kemudian menetapkan melalui dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga saat ini.

Kasih ibu, sepanjang masa. Ibu juga selalu menganggap kita anak kecil yang kebetulan tumbuh dewasa. Mungkin benar, bahwa kita hanya dapat merasakan dan mengerti perasaan ibu atau perasaan orang tua, saat kita berada pada posisi yang sama. Sungguh celaka bagi kita yang tidak mampu memahami kehadiran ibu dengan seksama. Kehadiran ibu menjadi titik awal yang kemudian melahirkan kehidupan demi kehidupan. Tentunya, perjuangan seorang ibu dalam mendidik anak-anak bukanlah perkara mudah. Sepantasnya, bila kemudian perjuangan itu dikenang secara mendalam dan dirayakan pada tanggal 22 Desember.

*

Gempa Bumi dan Tsunami Sendai 2011 di Jepang semoga masih tersimpan dalam ingatan kita. Saat peristiwa itu meluluhlantakkan Jepang, ada banyak cerita yang dapat menjadi pencerahan atau pelajaran penting untuk kita. Salah satunya berita yang kemudian tersebar setelah gempa, berita tentang pengorbanan ibu untuk anaknya.

Petugas evakuasi menemukan wanita muda dalam keadaan tidak bernyawa, sembari mendekap bayinya yang diduga masih berusia tiga bulan. Beruntung bayi tersebut selamat dari reruntuhan bangunan. Sang Ibu seolah telah mengetahui ajalnya, dengan menulis pesan singkat kepada anaknya lewat ponsel bahwa “Nak, bila engkau selamat ingatlah bahwa ibu mencintaimu lebih dari apapun”. Pengorbanan ibu untuk anaknya, adalah cinta yang tidak akan mampu kita kalahkan dan tak akan mampu kita hitung.  Pramoedya Ananta Toer dalam buku Anak Semua Bangsa menyatakan bahwa “Sebesar-besar ampun adalah yang diminta seorang anak dari ibunya, sebesar-besar dosa adalah dosa anak kepada ibunya”

*

22 Desember sesungguhnya awal untuk kita kembali sadar bahwa hari Ibu wajib dirayakan setiap hari, bukan sekedar perayaan biasa. Setiap tahun di bulan Desember, beberapa orang akan disibukkan dengan memikirkan cara yang tepat untuk merayakan hari ibu. Saya pun demikian, berusaha untuk menyampaikan rasa sayang kepada ibu. Desember ini, saya berencana untuk mengirimkan surat rindu serta hadiah sebuah buku kumpulan puisi saya untuk ibu. Meskipun hal tersebut tentu tidak akan serta merta mampu menandingi apa yang telah ibu berikan kepada kita. Selamanya, ketulusan ibu tidak akan dapat dikalahkan. Setidaknya, surat itu adalah jalan menyampaikan rindu dan kasih dari anak kepada ibu.

Mencintai, menghargai dan menghormati Ibu adalah kewajiban kita yang telah meminjam rahimnya selama kurang lebih sembilan bulan. Bahkan lebih dari semuanya, menghitung kasih ibu adalah pekerjaan yang tak akan berujung. Membalas kasih ibu adalah kewajiban sepanjang hayat kita. Muhammad SAW pernah mendapat pertanyaan dari sahabatnya, “Bagaimana saya bisa melihat Tuhan tersenyum?” Muhammad menjawab, “Buatlah Ibumu tersenyum terlebih dahulu, dan Tuhan juga akan ikut tersenyum kepadamu”.Selamat Hari Ibu


___

Catatan: Tulisan ini dimuat pada kolom Literasi Tempo Makassar, pada Sabtu (21 Desember 2013). Beberapa tulisan yang pernah dimuat sebelumnya dapat dibaca di sini. 

1 comment:

  1. Terimakasih ibu-ibu yg telah melahirkan anak-anak hebat, khususnya mama saya pastinya. :D

    ReplyDelete

Powered by Blogger.