Pemimpin Bunglonisme

Kepemimpinan itu dapat diibaratkan seperti cinta. Sesuatu yang sampai hari ini semua orang tahu bahwa itu ada, namun tidak ada yang mampu mendefinisikannya secara tepat apa itu kepemimpinan. Hal itu terbukti dengan lahirnya berbagai teori tentang kepemimpinan, namun tidak ada yang mampu bertahan menghadapi ujian waktu. Kepemimpinan bagaikan legenda Yeti di Pegunungan Himalaya (Abominable Snowman), yang jejak kakinya ada di mana-mana namun sosoknya tidak terlihat.

Pada tahun 1993, Dale Carnegie, seorang penasihat manajemen pernah menulis sebuah buku dengan judul yang puitis, The Leader in You. “Ada kepemimpinan di dalam setiap diri anda”. Pesan itu sesuai dengan apa yang telah dijelaskan di dalam Al Quran maupun Alkitab bahwa manusia diciptakan Tuhan untuk memimpin alam semesta. Setiap orang memiliki keterampilan menjadi pemimpin.

Keterampilan memimpin pernah dianggap sebagai bawaan lahir. Pemimpin dilahirkan, tidak dibuat, namun pandangan tersebut dianggap tidak selamanya benar. Dan kemudian muncul dugaan baru, bahwa sesungguhnya kepemimpinan lahir dari peristiwa hebat yang membentuk atau kondisi lingkungan yang menjadi penentu lahirnya seorang pemimpin. Namun bagi saya, pemimpin adalah orang yang terus belajar dan belajar. Hingga akhirnya memantaskan dirinya untuk dapat disebut sebagai pemimpin.

Para pemimpin merupakan orang yang senantiasa belajar. Bahkan, di antaranya merupakan pembaca yang rakus seperti Harry Trauman, yang di masa mudanya menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan kota dan dilaporkan telah membaca semua buku perpustakaan, sekian ribu volume, termasuk seluruh ensiklopedia yang tersedia. Harry Trauman kemudian berhasil menjadi presiden Amerika yang ke-33.

Ada pula pemimpin yang lebih banyak belajar dari orang lain. Sam Walton pendiri jaringan perusahaan raksasa WalMart, yang merupakan seorang legenda karena menghabiskan banyak sekali waktunya dengan konsumen. Dari konsumen, Sam Walton kemudian mampu membangun Walmart menjadi sebuah perusahaan yang tersebar di berbagai Negara. Tentu, pemimpin adalah manusia yang senantiasa untuk belajar dari banyak hal.

Dewasa ini, para calon pemimpin cenderung dikenal karena kemampuan mereka melakukan cara-cara instan, memilih jalan pintas. Melalui kampanye politik uang, memasang berbagai atribut parpol di jalan, serta komunikasi dengan balutan janji-janji manis menjelang pemilihan. Mereka yang seperti itu, hanyalah pemimpin yang tidak memiliki kualitas yang dapat menjadi teladan. muncul tiba-tiba menjelang pemilihan, dan tentu memilih untuk lewat jalan pintas. Mereka yang kemudian terpilih lewat jalan pintas, hanya akan memimpin dengan gaya eksperimen yang tak akan berakhir dengan menemukan cara yang tepat.
*
Pemimpin dijalan pintas adalah penganut paham bunglonisme. Perilaku bunglon yang dalam proses mempertahankan diri mampu merubah warna tubuhnya sesuai dengan lokasi sekitarnya. Bunglon mampu berbaur dengan lingkungannya, namun pemimpin dengan jalan pintas, sesungguhnya jauh lebih hebat dari bunglon.

Bunglon merubah warna tubuhnya disebabkan oleh ketakutan, dan upaya melindungi diri dari serangan hewan lain. Sedangkan pemimpin dijalan pintas selalu berusaha untuk berpura-pura dan mencoba berbaur dengan lingkungan yang ada. Terkadang, semua berubah dengan cepat, baik atau buruk, yang terpenting mereka dapat diterima di lingkungan. Mereka tidak akan belajar untuk menikmati proses, hingga akhirnya menjadi konsisten dengan ketidakkonsistenan.


Kepura-puraan itu lahir karena ketidakmampuan untuk memberikan keteladan dalam bertindak. Memang, saat ini dunia serba instan dan praktis namun sungguh, jika pemimpin pun ikut menjadi instan kita hanya akan menjadi korban dari perilaku bunglonisme. Miris.

Catatan: Tulisan ini dimuat pada kolom Literasi Tempo Makassar, pada Sabtu (16 November 2013). Beberapa tulisan yang pernah dimuat sebelumnya dapat dibaca di sini. 

No comments:

Powered by Blogger.