"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Friday, November 29, 2013

Catatan di Akhir November

9:12 AM Posted by Wawan Kurn , No comments
Di awal November, saya pulang kampung selama tiga hari dan menghabiskan waktu dengan bermain bersama Adil dan Adib. Dua orang adik saya yang masih mengenakan seragam putih merah. Setiap kali saya bermain dengan mereka, selalu saja, saya terjebak dengan keinginan pulang di masa kanak-kanak.

Baiklah, akan kubagi potongan-potongan cerita tentang Adil dan Adib.

  1. Adil, beberapa bulan terakhir ini, dia rajin menagih hadiah berupa buku puisi. Ini bermula dari tugas sekolah, saat Ibu guru memberikannya tugas untuk menulis dan membaca puisi. Karena itu, saya menghadiahkan beberapa buku antologi puisi yang juga memuat tulisan saya sebulan yang lalu. Saat saya kembali di Minggu pertama November, dia masih menagih saya buku puisi. Saya menanti waktu, ketika saya mendapat kesempatan untuk menagihnya menulis puisi, membaca puisinya. Saya berdoa untuknya, agar dia mampu menciptakan puisi dan tidak seburuk puisi-puisi saya.
  2. Adib, di akhir Oktober saya memberikannya sebuah buku bacaan. Saya tahu dia belum begitu lancar untuk membaca, namun saya selalu percaya bahwa Adib punya keinginan besar untuk belajar. Saya kadang cemas, bila saja ada cemburu yang diam-diam masuk di dalam hatinya. Melihat, kakaknya,(Adil) yang sudah pandai membaca. Beruntungnya, Adil bisa menjadi kakak yang baik untuk Adib, Adil dengan senang hati membantu Adib untuk belajar membaca. Hingga akhirnya, Adib mulai senang membaca.
  3. Mereka berdua (Adil dan Adib) sepertinya menjadi teman yang baik untuk orang sekitarnya. Setiap kali saya pulang, di sore hari akan datang beberapa temannya untuk mengajak Adil Adib bermain bersama. Ibu saya bilang, kalau setiap hari mereka rajin bermain, bola, bulutangkis, robot, atau pergi ke kebun dan berenang di sungai. Kondisi ini yang membuat saya semakin terjebak dengan keinginan untuk pulang ke masa kanak-kanak.
  4. Keinginan itu sesungguhnya terobati, saya selalu bisa menjadi bagian dari mereka. Bermain bersama Adil, Adib dan teman-temannya. Sepertinya, Tuhan memberikan saya kesempatan atau mesin waktu untuk bermain ke ruang yang selalu kuinginkan. Hal yang paling sulit adalah ketika saya harus mengatakan “Pulang ke Makassar” kepada mereka. Dengan polosnya, mereka selalu bertanya, “Kapan kita main lagi? Kapan ki libur, datang lagi?” Mereka bergantian menanyakan itu, sepertinya saya berhasil menjadi anak-anak untuk mereka, dan juga untuk jiwa saya sendiri.
Di pertengahan November, saya mendapatkan beberapa tugas di dalam dan di luar kampus. Sayangnya, saya tidak mampu melakukannya dengan maksimal. Saya melihat November sebagai bulan yang penuh dengan penundaan. Saya menunda ini dan itu, hingga akhirnya semua berujung dengan kecewa.

Di akhir November ini, saya mulai belajar untuk kembali berbenah.

Saya melahirkan sebuah buku kumpulan puisi pertama saya yang berjudul “Persinggahan Perangai Sepi”. Saya ingin menghadiahkan buku ini untuk Ibu saya, belakangan saya akhirnya sadar bahwa menulis dan memperlihatkan tulisan saya kepada ibu adalah salah satu jalan untuk menemukan senyum-senyumnya. Saya mengira bahwa menulis tidak berarti apa-apa untuk ibu saya namun ternyata, lebih dari apa yang saya bayangkan. Saya menemukan alasan baru untuk menulis.

Dan juga, bila saya menghembuskan napas terakhir sebelum Desember tiba, saya sudah memanjangkan usia dengan buku. Saya percaya, jika tulisan memang punya kekuatan itu. Saya berharap berakhir dengan baik, seperti Tuhan mengakhir November ini dengan menghadiahkan buku itu. Berakhir dan kemudian memulai. “aku ingin hidup seribu tahun lagi” petikan puisi Chairil Anwar itu mungkin mantra untuk memanjangkan usia.  Saya ingin hidup lebih dari apa yang Charil Anwar inginkan. 


Sebentar lagi November usai, dan saya belum mahir memaknai akhir setiap bulan. Tapi kali ini, saya akan kembali belajar. Semoga Desember lebih baik, dan saya mampu melihat atau menemukan lebih banyak lagi senyuman-senyuman Ibu.


Batua Raya VII, Makassar, 30 November 2013

0 comments:

Post a Comment