Surat dari Olimpiade Psikologi

“Barangkali kita dihadang keinginan diri sendiri,
dan ditantang pulang ke dalam diri.
Barangkali kita akan mati,
sebelum menggali
dan mengenali kuburan Tuhan untuk kita”
(Perjalanan Malang - Surabaya)

Akhir pekan minggu ketiga bulan Oktober, saya mendapatkan kesempatan untuk datang bertandang pada Olimpiade Psikologi Kedua yang diselenggarakan oleh Himpunan Psikologi Indonesia. Sebanyak 27 Universitas turut serta dan bertanding dalam Olimpiade yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Ada ratusan peserta dan beragam warna almamater meramaikan olimpiade itu.

Selama beberapa hari dalam Olimpiade itu, saya belajar dari empat orang yang menjadi tim dari Psikologi Universitas Negeri Makassar. Tulisan ini sebenarnya ingin saya simpan saja, namun kemudian saya berubah pikiran. Saya ingin sedikit menabur cerita tentang empat orang yang menjadi kawan seperjuangan. 

Tulisan ini saya tujukan kepada empat orang itu, sehingga apabila ada hal yang tidak dimengerti, mungkin itu bersifat personal.

Pertama, Dhanu.
Entah seberapa besar pengaruh buku yang kau baca itu merambat memasuki pikiranmu. Buku yang sebenarnya wajib kau simpan dulu dan belum menjadi bacaan anak ingusan sepertimu. Saya masih menganggapmu anak ingusan tapi sebenarnya kau sudah tumbuh dan punya banyak tanggung jawab. Menjelang lomba poster, kau dan partnermu begadang dan terus berdiskusi. Sebenarnya saya menahan tawa, melihat kalian serius adalah peristiwa yang langka. Tidak, malam itu kalian tetap saja masih bermain-main dengan lelucon- lelucon anehmu. Sepertinya, begitulah gaya belajarmu. 

Perihal kekasihmu yang juga anak MIPA, semoga kau bisa mengajak dan mengajarnya berada pada titik ketulusan yang setia. Hingga waktu dan duniamu menyatu pada bingkai yang Tuhan sediakan, dan pada akhirnya kau mampu mengaplikasikan ilmu yang kau dapatkan dari buku yang hampir setiap hari kau sebutkan selama Olimpiade. Semoga, bulan ini kau bisa menyelesaikan tanggung jawabmu sebagai Ketua Panitia PsychoExprs. ;) "Kau teman yang rajin"

Kedua, Fahrul. 
Kau yang beberapa bulan ini berusaha untuk lepas dari candu sebatang rokok. Namun, menjelang olimpiade kau berhenti dan seolah mengibarkan bendera putih pada niatmu, apa kau menyerah? Saya menduga bahwa niatmu itu karena perempuan yang selalu kau ceritakan, tapi karena melihat peluang sudah semakin menipis dan hampir hilang, kau berbalik arah. Saya berharap akan datang seorang perempuan yang kembali memberimu motivasi untuk bercerai dengan batang-batang rokok itu. 

Saya belajar tentang kerja keras darimu. Bendera yang kau siapkan untuk olimpiade belum sempat dikibarkan, percayalah esok akan ada yang bisa mewujudkan itu. Keringatmu yang keluar adalah "sesuatu". Ketika kita berdiskusi tentang perempuan dan cinta, percayalah bahwa akan datang waktumu. "Perempuan belum mengenalmu secara utuh, itu saja. Maka MENYESAL-lah perempuan yang menanggalkan niatnya bersamamu. Besok kau akan temukan yang lebih baik"  

"Kau teman yang pekerja keras"

Ketiga, Yunita.
Sepertinya biasa, kau punya banyak ide dan keinginan, tekad yang amat kuat. 
Besok, saya yakin kamu bisa jadi apa yang kamu impikan. Psikometri itu menyenangkan, semoga kau berjodoh dengan psikometri setelah dipertemukan di Olimpiade. Terima kasih untuk kekasihmu yang juga ikut membantu selama Olimpiade. 

"Kau teman yang tenang"
Keempat, Azmul.
Teman-temanmu bilang kau mengidap ADHD. Mungkin saja.

Tapi sepertinya saya menemukan penyakit yang belum ditemukan teman-temanmu. Entah itu baik atau tidak, tapi saya merasa cukup mendiamkan penyakitmu itu. Kau yang akhir-akhir ini kujahili dengan cerita tentang cinta sepertinya mulai mampu beradaptasi. Melihatmu berduet dengan Danu adalah peristiwa yang menghibur. 

Kau juga sudah mulai menyukai buku, meskipun kau selalu bilang "saya suka baca buku gambar" tapi apapun itu, yang penting kau suka dengan buku. Buku "Kreatif Sampai Mati" yang kau beli saat kita bersama ke toko buku semoga membuatmu semakin gila dengan penemuan-penemuan anehmu. 

Tahukah kau, bahwa perempuan akan selalu terusik dengan caramu yang aneh? Berhati-hatilah! 
 "Kau teman yang kreatif"
*



Saya mohon maaf kepada kalian, dan semoga kita tetap menjaga cerita ini dan melanjutkannya di cerita yang lebih baik. “Barangkali kita dihadang keinginan diri sendiri,dan ditantang pulang ke dalam diri." 

1 comment:

Powered by Blogger.