Kebebasan Semu, Penjara, dan Logoterapi

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah” - Pramoedya Ananta Toer

Menulis bukanlah hal yang sulit bagi sebagian orang. Namun sebagiannya lagi merasa menulis adalah hal yang menyenangkan. Menulis, bila dikaji dalam bidang ilmu psikologi bisa menjadi sebuah terapi dalam menstabilkan kondisi emosi atau gejolak yang ada di dalam jiwa, seperti yang dijelaskan Bolton. G pada tahun 2004 dalam buku “Introduction: Writing Cures” bahwa menulis menyimpan kekuatan tersendiri karena menulis adalah bentuk eksplorasi dan ekspresi wilayah pemikiran, emosi, dan spiritual yang dapat dijadikan sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan diri sendiri dan mengembangkan pemikiran serta kesadaran akan peristiwa.

Salah seorang tokoh psikologi, Viktor Frankl menjadikan proses menulis sebagai bahan untuk menemukan makna pada kedalaman hidupnya sendiri. Bukunya, Man's Search for Meaning terbit pada tahun 1946 dengan judul awal asTrotzdem Ja Zum Leben Sagen: Ein Psychologe erlebt das Konzentrationslager, yang berarti Nevertheless, Say "Yes" to Life: A Psychologist Experiences the Concentration Camp. Dan pada tahun 1959 terbit kembali dengan judul yang berbeda yakni From Death-Camp to Existentialism. Namun, dalam versi Inggris buku tersebut lebih dikenal dengan judul Man's Search for Meaning.

Buku itu mencatat pengalamannya sebagai seorang tahanan Nazi di Jerman dan menguraikan metode psikoterapisnya dalam upaya mencari makna dalam segala bentuk keberadaan, bahkan yang paling kelam sekalipun, dan dengan demikian juga alasan untuk tetap hidup. Dari hasil proses menulis tersebut, kemudian lahirlah sebuah teori yang dikenal dengan sebutan Logoterapi. Kata logoterapi (Logoteraphy) berasal dari dua kata, yaitu logo berasal dari bahasa Yunani logos yang berarti makna atau meaning dan juga rohani. Adapun kata terapi berasal dari bahasa Inggris theraphy yang artinya penggunaan teknik-teknik untuk menyembuhkan dan mengurangi atau meringankan suatu penyakit.

Jadi kata logoterapi artinya penggunaan teknik untuk menyembuhkan dan mengurangi atau meringankan suatu penyakit melalui penemuan makna hidup.
*
Bukan hanya Viktor Frankl yang menikmati masa tahanan dengan membebaskan pikirannya lewat menulis. Dua orang tokoh proklamator Indonesia juga menikmati masa tahanan dengan menulis. Bung Hatta ditahan penjajah Belanda dalam waktu yang relatif lama di penjara Boven Digul Irian, dan kemudian menulis sebuah buku yang berjudul “Mendayung Antara Dua Karang”. Bung Karno ditahan di penjara Sukamiskin Bandung dalam waktu yang juga relatif lama, dan menulis buku yang berjudul “Di Bawah Bendera Revolusi”.  Karya tersebut menjadi warisan intelektual yang menjadi bahan untuk belajar dari sejarah.

Saat ini, kita menikmati kebebasan yang semu. Tanpa sadar kita terpenjara dengan lingkungan yang membawa kita pada zona nyaman hingga kita lupa diri. Kenyamanan itulah yang membuat kita tidak mencoba menggali kedalaman diri, mencoba untuk merasa dan mengenal diri sendiri. Menulis dapat menjadi bahasa untuk berbicara dengan diri sendiri. Menulis akan menjernihkan dan membebaskan pikiran dan perasaan, sebab itulah Logoterapi ditemukan Viktor Frankl. Logoterapi boleh disebut sebagai hasil diskusi dengan diri sendiri, yang kemudian melahirkan makna akan kehidupan yang dialami.  

Seno Gumira Ajidarma, dalam bukunya “Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara” menyatakan bahwa belajar menulis adalah belajar menangkap momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia. Juga, menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang. Menulis mengajarkan kita banyak hal tentang kehidupan. Mari menulis!
___________________________


Catatan:
Tulisan di atas dimuat di Koran Tempo Makassar, Sabtu, 12/10/13, di rubrik Literasi.


No comments:

Powered by Blogger.