"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Saturday, September 14, 2013

Pavlov dalam Politik Behaviorisme

10:38 AM Posted by Wawan Kurn 2 comments
Behaviorisme merupakan salah satu bidang kajian psikologi eksperimental yang terus berkembang pesat  hingga penghujung abad ke-20. Meskipun demikian, hingga saat ini aplikasi dari berbagai temuan behaviorisme tetap menjadi acuan dalam melakukan berbagai penelitian terbaru. Ivan Petrovich Pavlov, salah seorang peneliti berkebangsaan Rusia yang juga merupakan tokoh berpengaruh atas lahirnya aliran behaviorisme. Kalangan behavioristik meyakini bahwa seluruh perilaku yang terjadi dikendalikan dan diatur oleh berbagai faktor eksternal dari lingkungan. 

Keyakinan tersebut diperkuat atas hasil temuan Pavlov terkait dengan istilah classical conditioning atau pengkondisian klasik yang membawanya menjadi salah satu penerima penghargaan Nobel pada tahun 1904. Penelitian eksperimen itu dimulai dengan memasang alat perekam di pipi anjing untuk mendeteksi air liur (saliva) yang akan keluar dari rangsangan atau stimulus yang akan diberikan. 

Proses dimulai dengan menyalakan lampu dan anjing bergerak tapi tidak mengeluarkan air liur (saliva). Setelah beberapa detik, Pavlov memberikan makanan bersamaan dengan lampu yang dinyalakan. Air liur anjing pun keluar dan alat perekam memperlihatkan hasil dari proses tersebut. Proses ini kemudian dilakukan berulang kali, menyalakan lampu lalu diikuti dengan pemberian makanan untuk anjing. 

Proses selanjutnya kemudian berganti, lampu dinyalakan tetapi makanan tidak diberikan, namun anjing tetap mengeluarkan air liur (saliva). Alhasil, Anjing kemudian mengasosiasikan nyala lampu dengan pemberian makanan. Perilaku tersebutlah yang selanjutnya dikenal dengan istilah classical conditioning atau pengkondisian klasik. Sederhananya, pengkondisian klasik berpusat pada sejumlah prosedur, di mana stimulus muncul untuk menggantikan stimulus lainnya dalam mengembangkan suatu respon. Sekiranya, air liur anjing keluar saat makanan ada tetapi dapat tergantikan hanya dengan lampu yang dinyalakan. Terjadi perilaku yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan. 

Belajar dari hasil temuan Pavlov tersebut, membuat kita dapat memprediksikan kondisi politik  Indonesia di masa depan.
*
 “Taro ada taro gau” artinya apa yang dikatakan itu pula yang diperbuat. Pemimpin yang menerapkan kalimat “Taro ada taro gau” tersebut akan mengajarkan masyarakat untuk percaya dan kemudian mendukung atau bersinergi bersama. Akan tetapi, aplikasi dari “Taro ada taro gau” sedikit demi sedikit mulai hilang. Masyarakat menjadi korban dari pengkondisian klasik yang dijalankan para pelaku politik yang sebenarnya cerdas namun tidak bermoral. Memilih calon tentunya dibarengi dengan harapan agar menemukan perubahan positif, tapi kemudian bergeser pada janji-janji manis yang bersifat fana. Hanya sebatas kata-kata. Miris.  

Akibatnya, masyarakat secara tidak langsung belajar untuk mempersepsikan politik sebagai kebusukan, yang semestinya tidak seperti itu. Bila saja janji politik dan pembuktian itu dapat sejalan, maka respon yang diberikan masyarakat akan lebih kepada sisi positif dalam memandang politik itu sendiri. Saat ini, pelaku politik berlomba-lomba untuk menawarkan atau memberikan janji serta inovasi yang akan dijalankan saat menjabat sebagai pemimpin. Tanpa sadar lingkungan tersebut telah mencemari persepsi masyarakat. Semakin banyak pelaku politik yang hanya bisa bermain janji, semakin hancur pula persepsi politik yang baik di kepala masyarakat. 

Sekiranya, politik dapat mengajarkan kita untuk berperilaku teladan, dan juga konsisten. Akan tetapi, faktanya semakin banyak pelaku politik yang malah konsisten pada ketidakkonsistenan itu sendiri. Maka, esensi politik yang sebenarnya wajib untuk diajarkan kepada masyarakat luas, sehingga lingkungan tidak terlanjur membentuk perilaku yang tidak diinginkan terhadap keberadaan politik di Indonesia. Sayangnya, pendidikan politik kurang dimaksimalkan bahkan diabaikan. Minat politik bisa ditumbuhkan sejak dini demi mendapatkan perubahan yang lebih baik.

*
Di perpustakaan kampus maupun di teras rumah, saya senang menghabiskan waktu dengan membaca penelitian dari kalangan Psikologi Behaviorisme, seperti John. B. Watson,  Edward Thondike, John Dollard, Neal Miller, B.F Skineer, dan juga Pavlov. Hari ini, 14 September merupakan tanggal kelahiran Ivan Petrovich Pavlov. Seperti inilah saya mengenang Pavlov. Menuliskannya dan kembali mempelajari temuannya. Sebenarnya, masih banyak hal yang dapat dipelajari dari hasil temuan Pavlov. Masih banyak!

___________________


                                                                                     dokumentasi pribadi
Catatan:
Tulisan di atas dimuat di Koran Tempo Makassar, Sabtu, 14/09/13, di rubrik Literasi.


2 comments: