Surat Untuk Irfan Amalee

Assalamu Alaikum wr.wb

Perkenalkan, nama saya Wawan Kurniawan (saya bukan orang Sunda; makanya di jejaring Sosial saya menggunakan Wawan Kurn J). Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar.

Pertama kali mengenal anda lewat video yang saya dapatkan dari teman, video itu adalah rekaman dari TedX Jakarta 2010. Dalam acara itu, anda hadir sebagai pembicara dan memaparkan kisah anda tentang Peace Generation, lalu mengajak peserta untuk melakukan janji damai. Di situlah awal kali saya mengenal anda, Irfan Amalee. 

Beberapa Minggu sebelum Ramadhan, salah seorang teman saya memberikan rekomendasi buku lewat twitter. Buku bersampul kuning dengan gambar telapak kaki berwarna hitam, di samping telapak kaki itu bertuliskan kata “Ibu”. Saya pun tertarik untuk membaca buku itu, sekaligus saya berharap bisa mengenal anda, dan mendapatkan cerita melalui pengalaman anda lebih dari video yang saya dapatkan dari teman beberapa tahun yang lalu.
*
Saya baru saja menamatkan buku anda, “Beasiswa di Bawah Telapak Kaki Ibu”. Pada saat saya memulai membaca buku anda, saya sempat mengutip kalimat di bab pertama lewat twitter.

RT @wkhatulistiwa: Ibu selalu menganggap kita anak kecil yang kebetulan tumbuh dewasa. #BdTKI

Kalimat itu kembali menyadarkan saya, bahwa Ibu memiliki naluri ibu yang kadang kita lupakan. Saya terlampau sering acuh untuk hal tersebut, bahwa Ibu adalah Ibu. Islam memberikan posisi istimewa kepada sosok Ibu, tapi kadang saya hanya sekedar paham konsep itu tapi kurang dalam tataran aplikasi. Menyedihkan.

Melalui tulisan ini, saya mengucapkan terima kasih atas rangkain bab yang telah anda bagi. Ada banyak hal yang saya dapatkan melalui buku itu. Sejak tamat SMA di tahun 2010, saya mulai menyusun mimpi dan target dalam hidup. Salah satunya adalah melanjutkan studi di Amerika Serikat.  Lewat buku anda, saya kembali memperkuat niat itu.

21 Pengalaman, 13 Pelajaran 7 Tips praktis hidup dan studi di Amerika bermodal doa orang tua, semua itu membuat saya yakin bahwa buku anda akan memberikan inspirasi besar bagi banyak orang. Terkhusus, mengingatkan saya kembali pada kekuatan doa orang tua, Ibu maupun ayah.

Saya membaca buku #BdTKI sambil berdoa kepada Tuhan. Saya paling senang bermain visualisasi, secara tidak langsung saat membaca buku anda, saya sudah berdoa. Merasa bahwa saya sudah berada di Amerika, seperti tips anda “dahului takdir”. Saya sepakat dengan konsep itu.  Melalui buku #BdTKI itu juga saya mulai memikirkan hal yang belum pernah saya pikirkan sebelumnya, yakni menempuh beasiswa bersama keluarga, hidup bersama istri dan anak. Tentu, cerita yang akan kita dapatkan dapat menjadi rangkain perjalanan yang menyenangkan.

Oiya, saya paling suka dengan Ilmu Menggali Sumur di buku anda.

RT @irfanamalee: Semakin bernilai yang kita cari, semakin banyak tanah yang kita gali, semakin belepotan tubuh kita dengan tanah dan lumpur.

Salam kepada tujuh orang yang juga ikut berbagi tips di buku anda: Raja Juli Antoni, Hilman Latief, Elpi Nazmuzzaman, Maulana, Yudi Nurul Ihsan, Ahmad Imam Mujadid Rais, dan Fahd Djibran. Terima Kasih telah berbagi cerita dan tips berburu beasiswa.
*


Sampul Buku #BdTKI

Bila anda berkunjung di Makassar, kita bisa bertemu dan berbincang. Saya ingin belajar lebih banyak lagi dari anda. 

Semoga Tuhan memberi kesempatan untuk itu.

Terakhir, setelah membaca buku itu saya pun sudah berbincang dengan orang tua saya. Meminta restu dan doa seperti apa yang anda lakukan. Ibu akan berdoa untuk MIMPI-MIMPI saya.

Allahumma la mani a li ma a thaita wa la mu thiya li ma mana ‘ta. | “Ya Allah, tidak ada yang bisa menghalangi apa yang Engkau beri dan tidak ada yang bisa memberi apa yang Engkau cegah”.

Hatur Nuhun dan Selamat Hari Raya Idul Fitri, Maaf Lahir Batin.
Wassalam
Wawan Kurn | Sulawesi Selatan, Agustus 2013

No comments:

Powered by Blogger.