"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Sunday, August 4, 2013

Surat – Surat Waktu

2:20 AM Posted by Wawan Kurn , No comments
Aku membenci hari ini, tak lain karena dirinya. Aku menyukai sepi, tak lain karena dirinya. Aku menyukai menulis surat, tak lain karena dirinya. Segalanya, pasti akan berujung padanya, kepada hadirnya yang menelan segala logika yang menumpuk di kepala. Maka, aku merumuskan cinta sebagai racun bagi logika. Racun ini berbeda dari racun lainnya. Sepertinya, racun itu membuat aku jadi candu. Racun darinya, siapa lagi kalau bukan dia.

“Sudah berapa lama Rinda?”
“Hampir setahun”
“Masih?”

Waktu, jarak, dan rasa adalah ramuan dari racun yang diracik olehnya, sempurna. Sudah setahun kami saling bertukar surat, hanya surat melalui email. Aku masih mengingat keputusan ini, kami percaya bahwa komunikasi menjadi poin penting atas hubungan kami. Untuk mengalahkan jarak dan waktu, kami melahirkan huruf demi huruf hingga menjadikan dirinya sebagai lembar-lembar surat yang rindu. Memilih surat di zaman teknologi ini terdengar sedikit bodoh. Tapi, ini adalah ideku.

“Aku percaya dengan jarak, waktu, tapi aku lebih percaya denganmu”
“Komitmen itu paling penting”tegasku dan dia mengangguk.
“Ada yang lebih penting Rind”

Berselang beberapa detik kami berteriak secara bersamaan, “keep contact!”
Kami berbagi senyum, meskipun beberapa hari lagi kami akan saling merindu. Percakapan terakhirlah yang membiarkan surat demi surat datang untuk hari ini. Prinsip kami berdua, “keep contact, keep our trust!”

“Kamu yakin cukup dengan surat? Kan bisa skype?”
“Aku yakin, rindu itu bisa menambah setia kamu! Makanya lewat surat saja”
“Boleh, mungkin aku akan banyak rindu, rindu suara kamu dan rindu teriakan kamu, atau tawa kamu?” Kami tertawa bersama.


Ide itu tak lain lahir dari dia sendiri. Keyakinan untuk menjalin komitmen dengannya punya cerita berbeda dibanding dengan yang lain. Surat, pintu rasa ini dibuka dengan surat darinya. Sekian banyak surat yang dia kirim membuat aku yakin, ketulusan yang dititip disetiap spasi adalah jawaban sebenarnya. Makna akan ketulusan sedikit demi sedikit terlihat dari suratnya.

Aku mengenalnya semakin dalam disetiap tulisannya, di dalam suratnya.

Pada akhirnya, aku membalas surat yang dulu dia kirimkan. Aku mencintai kebisuaannya yang dalam, yang menyimpan banyak rahasia dan makna. Aku kadang takut dengan kebisuaannya, dia bergolongan darah A.  Aku pernah membaca artikel bahwa perilaku golongan darah A sulit untuk ditebak. Dan itu benar untuk pribadinya.  Namun lewat suratnya, aku bisa yakin dengan ketulusannya.  

“Menulis itu untuk mengalahkan keraguan, saat itu kau akan belajar untuk jujur pada diri sendiri. Kamu bisakan Rind?”

Aku tersenyum dan menjawab dengan lantang, “Sanggup”.


Surat ini sungguh menenangkan. Aku sering membacanya berulang, membayangkan kata itu berubah menjadi dirinya, melihatnya berdiri atau duduk di hadapanku. Rindu kuat atas jarak yang kita percaya. Begitupun dengan setia, waktu akan menguatkannya. Setia kadang harus diadu dengan jarak dan waktu. Melanjutkan pendidikan di luar negeri akan membuat kami belajar banyak hal dalam menjalani proses seperti ini. Indonesia dan Amerika Serikat akan dekat, tapi bisa juga terasa sangat jauh. Komunikasi itu ibarat pintu untuk melihat keberadaan masing-masing.

Beberapa hari lagi, dia akan pulang ke tanah air. Merayakan Idul Fitri bersama keluarga. Di hari kemenangan itu, kami sudah membuat janji. Semua akan kami tuliskan kembali di surat. Menjawab rindu yang lahir atas jarak, tak lain dengan bertemu. Tapi itu akan aku bantah, beberapa bulan sebelum dia berangkat ke Amerika Serikat kami pernah berbincang perihal komitmen.  

“Aku tak ingin menjawab rindu”
“Kenapa Rind?”
“Aku punya permintaan untuk kamu!”

Kami terdiam beberapa menit.

*
Tahun ini, di lebaran kali ini di antara kami tak ada jawaban rindu yang biasa. Kali ini lebih dari biasanya. Hubungan yang sia-sia adalah yang tak berani untuk berkomitmen, yang tak berani menjaga setia. 

Kita akan bertemu di hari kemenangan selanjutnya, bukan tahun ini. Dan akhirnya, dia setuju. Isi permintaanku kutulis sehari sebelum dia pulang ke Indonesia. 

“Maaf, mungkin aku bukanlah perempuan yang berakhlak karimah seperti istri rasulullah. Saat ini, inilah diri aku dan aku berjanji, aku ingin melunasi sikap-sikap yang kurang berAkhlakul karimah. Dengan menjadi istri yang taat pada suami, dan aku berharap itu kamu. Inilah aku yang memintamu, berjuanglah, kelak aku akan menunggumu datang dan menyampaikan kabar gembira yang aku nanti-nanti. Yang kita harapkan, yang sudah lama ingin kita dengar, yang sudah jauh di dasar hati ingin segera diwujudkan! Halalkan aku bagimu”

Dan dia siap untuk menjawab surat itu bersama waktu dan usahanya. Doa Ramadhan tahun ini, untuknya. Lebih tepatnya untuk kami. Semoga, Amiin.  

_____________________________________________________
Diterbitkan di Cermin Keker, Koran Harian Fajar 3 Agustus 2013 

0 comments:

Post a Comment