Surat untuk Ahmad Fuadi

Alhamdulillah, akhirnya saya selesai membaca Trilogi Negeri 5 Menara.

Apa kabar Bang Fuadi? Perkenalkan saya Wawan dari Makassar.  

Saya sedikit ingin bercerita tentang karya Trilogi Negeri 5 Menara itu dan juga bercerita tentang beberapa pertemuan saya dengan bang Fuadi.

Baiklah, pada mulanya saya mengenal Negeri 5 Menara lewat acara Kick Andy. Saat itu, Sahibul Menara datang bertandang dan berbagi kisah tentang menara – menara yang ingin diimpikan. Sekaligus memperkenalkan mantra man jadda wajada pada pemirsa waktu itu. Tapi, tidak cukup jika hanya sebatas itu. Maka, saya putuskan sesegera mungkin untuk membeli buku Negeri 5 Menara.

Akhirnya saya dapatan buku itu.
Bab Pertama, “Pesan dari Masa Silam” saya baca dan selanjutnya berakhir di “Muara di atas Muara”.  
*
“Saya juga ingin jadi penulis bang, jalan yang nantinya akan saya jalani sudah kupilih dan kuyakini”

Kita, sudah pernah bertemu beberapa kali. Pertemuan pertama di Tahun 2011, saat itu Bang Fuadi datang memberikan materi menulis di salah satu universitas swasta di Makassar. Selanjutnya di acara Kompasiana Makassar, menjelang Film Negeri 5 Menara tayang di bioskop. Dan kemudian di Makassar International Writers Festival (MIWF) tahun 2012. Terakhir kita bertemu saat Bang Fuadi datang di Hotel Pitagiri, berbagi inspirasi bersama kawan-kawan Pertukaran Pemuda Indonesia Kanada (PPIK).

Setiap kali saya bertemu dengan Bang Fuadi, saya bisa merasakan semangat Man Jadda Wajada yang membuat saya bercermin bahwa saya belum berbuat dengan maksimal, masih kurang dan tidak cukup untuk mewujudkan mimpi yang saya punya. Saya belajar banyak dari karya Bang Fuadi.

Di Makassar International Writers Festival kita pernah berbincang tentang program PPIK. Saya bercerita jikalau niat untuk ikut program tersebut, terinspirasi dari novel Ranah 3 Warna. Bahkan info terkait program itu, awalnya saya dapatkan dari novel kedua Bang Fuadi. Selanjutnya, saya mencari dan akhirnya mendapatkan informasi pendaftaran. Tidak hanya sampai di situ, pada saat proses seleksi saya juga berhasil mendapatkan solusi dari novel Bang Fuadi. Pandangan awal orang-orang tentang program pertukaran pemuda Indonesia Kanada adalah peserta yang lolos wajiblah menguasai kesenian daerah dengan mampu menari atau bernyanyi dengan suara yang merdu dan cengkok yang pas.

Saya sadar bahwa jika ingin lolos dengan syarat mutlak seperti itu, maka peluang untuk berhasil sangatlah minim. Beruntunglah, saya membaca novel Ranah 3 Warna. Di dalam novel itu, ada solusi yang bisa saya gunakan untuk melawan ketakutan sebelum seleksi. Caranya, dengan menulis. Saya yang memang senang menulis merasa terbantu dengan pengalaman Bang Fuadi saat proses seleksi. Mengumpulkan seluruh hasil karya yang dimuat di koran dan membawa lalu dipertanggungjawabkan dihadapan panitia dengan baik. Langkah itu juga saya gunakan dan Alhamdulillah berhasil.

Proses menulis yang saya alami rasanya melelahkan. Saya pernah sempat menyerah, tapi saya berusaha untuk menikmati proses yang ada. Dan mengambil pelajaran dari “man shabara zhafira” Siapa yang bersabar akan beruntung. Belajar terus, semangat belajar yang Bang Fuadi miliki patut untuk dijadikan teladan bagi siapa saja, saya mulai belajar untuk itu. Tetap menjaga semangat, tetap konsisten pada jalan yang akan ditempuh. Selama ini, saya merasa konsisten pada ketidakkonsistenanan. Dan Alhamdulillah setelah mendapat mantra ketiga dari Rantau 1 Muara, saya meluruskan niat untuk memperkokoh langkah ini. Menjadi istiqamah ; “man saara ala darbi washala” Siapa yang berjalan di jalannya, akan sampai ke tujuan.
*
Bersama alumni PPAN

Ada banyak hal yang dapat saya pelajari dari karya itu. Semoga Tuhan memberikan saya kesempatan untuk dapat bertemu dan kembali belajar dari Bang Fuadi.

Sebelum saya tutup surat ini, saya punya permintaan kepada Bang Fuadi. Tapi mungkin akan saya kirimkan via email. Bolehkan Bang?

Terakhir, Salam untuk Dinara dan Alif yang di buku Rantau 1 Menara yang mengajarkan kisah cinta yang berbeda dari biasanya. Selamat. ;) 

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin, 

________________________________________
Catatan ini saya tulis sehari setelah lebaran di kampung, terkendala akses internet sehingga baru diposting sekarang. 


No comments:

Powered by Blogger.