"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Wednesday, June 19, 2013

"SEWINDU: Cinta Itu tentang Waktu"

11:59 AM Posted by Wawan Kurn No comments

"Sewindu, Cinta itu tentang waktu"

Seminggu yang lalu sebelum kembali ke Soppeng untuk menikmati libur akhir pekan, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke toko buku. Dan akhirnya, saya membeli sebuah buku yang berjudul “Sewindu” yang ditulis oleh Tasaro GK.  (Taufik Saptoto Rohadi sementara GK diambil dari Gunung Kidul) Sebelumnya, saya mengenal nama Tasaro GK dari teman saya yang sedang membacabukunya yang berjudul “Muhammad: Lelaki penggenggam Hujan” Belakangan, nama Tasaro semakin sering terdengar. Hari ini (Kamis, 20 Juni 2013) pukul 01.09 WITA saya baru saja menyelesaikan “Sewindu”. Butuh waktu sekitar seminggu untuk menikamati setiap cerita yang disajikan Tasaro. Dalam buku tersebut, saya belajar banyak hal akan proses kehidupan yang dijalani oleh Tasaro.   

Buku itu adalah buku pertama karya Tasaro yang saya baca, yang kedua sekaligus masih dalam tahap rencana saya adalah membaca buku Muhammad: Lelaki penggenggam Hujan. (Uang jajan wajib ditabung untuk membeli buku)

Cerita yang dipaparkan merupakan rangkaian perjalanan hidup Tasaro yang dikemas dengan sederhana dan menarik. Di mulai dari kisahnya bersama istrinya, yang pada mulanya harus merasakan nuansa pondok mertua. Kemudian, proses membeli rumah pribadi dari hasil kerja keras dan keinginan untuk terus berjuang tanpa mengutuk-ngutuk kekurangan yang ada. Ada pula proses saat Tasaro mengalami jatuh bangun untuk menjadi seorang penulis, proses untuk melahirkan buku MLPH. Dan masih banyak cerita di dalamnya.

Pengalaman-pengalaman tersebut mampu menjadi modal semangat untuk pembaca agar dapat mengikuti jejak Tasaro GK agar menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.

Saya suka dengan buku “Sewindu: Cinta itu tentang waktu”. Kalimat penjelas yang ada di bawah kata “Sewindu” merupakan kesimpulan dari buku tersebut. Saya sepakat dengan kesimpulan itu, waktu punya banyak cara untuk melahirkan cinta.  

Dan inilah, dua paragraf terakhir dalam buku “Sewindu” yang menopang kesimpulan di atas. 



Sebab mencintai pada tingkat yang solid adalah komitmen. Terkadang, rasa terombang-ambing dan membuat bimbang. Ada waktunya kata-kata mesra sudah terkunci dan sulit dikeluarkan lagi. Namun, ketika komitmen itu terjaga. Keinginan untuk membangun kehidupan yang berarti terus dijalani, itulah cinta. 

Seharusnya, cinta menjadi energi pembangun yang tak ada habisnya. Hal itulah yang kami resapi pada waktu sewindu ini. 


Saya yakin akan bertemu dan berbincang dengan beliau, SEMOGA.



0 comments:

Post a Comment