"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Wednesday, May 8, 2013

Mari Belajar Psikologi Pionir!

6:55 AM Posted by Wawan Kurn No comments
Adakah yang pernah mendengar tentang Psikologi Pionir? 

Mungkin anda mendengarnya dari dosen Psikologi di kampus anda, atau seorang teman yang kebetulan berstatus sebagai mahasiswa Psikologi, atau tak sengaja menemukannya di surat kabar, buku, atau mendengarnya dari perbincangan sahabat anda. Jika belum sama sekali, mari melanjutkan membaca tulisan sederhana ini yang kuharap akan menjadi jawaban atas pertanyaan yang telah menjadi pembuka atas tulisan ini.


Dalam tulisan ini saya berharap ada pintu atau jendela yang kemudian membiarkan kita melihat, menyentuh, dan merasakan belajar tentang Psikologi Pionir dengan singkat, padat, dan menyenangkan.



http://library.thinkquest.org/CR0212302/netherlandmap.jpg

Coba kita berkunjung pada satu negara yang melahirkan banyak pionir dengan berbagai hal yang menarik dan selalu indah untuk diceritakan, apalagi kalau bukan Belanda?


Asosiasi yang muncul seketika saat menyebut Belanda; “Kincir Angin”







Pada mulanya Kincir angin lahir sekitar abad 13 berfungsi untuk mendorong air ke lautan agar terbentuk daratan baru yang lebih luas (polder). Hal ini mengingat letak dataran Belanda yang sebagian besar wilayahnya berada di bawah permukaan laut. Dengan perkembangan teknologi, sekitar abad ke-17 kincir angin digunakan juga sebagai sarana pembantu di bidang pertanian dan industri. Seperti memproduksi kertas, mengasah kayu, mengeluarkan minyak dari biji, dan menggiling jagung. 

http://lovelymaryam.files.wordpress.com/2012/05/2012-05-01-netherlands-a.jpg
Konsep tersebut kemudian diikuti oleh negara lain. Belanda lahir sebagai pionir atas Kincir Angin, maka pantas Belanda dijuluki sebagai negara Kincir Angin atau dijuluki Bangsa Pionir.

Kondisi Belanda yang berada di bawah permukaan laut tidak membuat mereka kemudian berhenti untuk menemukan solusi. Warga Belanda kemudian dapat memecahkan masalah tersebut kemudian menjadi penemuan yang luar biasa. Bencana yang menakutkan itu berhasil diubah melalui kreativitas yang tinggi.

Apa senjata Belanda untuk mengalahkan segala keterbatasan tersebut?

Nelson Mandela, “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world”. Berbagai hal tersebut didapatkan tidak lain karena Belanda menempatkan pendidikan sebagai prioritas pembangunan Sumber Daya Manusia yang berkualitas. Belanda merupakan negara pertama di Benua Eropa yang menawarkan program-program belajar yang diajarkan dalam bahasa Inggris. Para mahasiswa pun didorong untuk berpikir kritis, kemudian kreatif dan inovatif. Hal tersebutlah yang kemudian menumbuhkan ide-ide luar biasa yang menjadi kekuatan untuk Belanda sehingga layak disebut Pionir.   .


Dalam hal pendidikan tinggi, Pada tahun 2011, sebanyak 12 universitas di Belanda masuk dalam peringkat 200 besar daftar perguruan tertinggi di dunia. Peringkat ini juga menempatkan sistem pendidikan tinggi Belanda di tempat ketiga, yang dalam pengukuran tersebut sebagai sistem nilai pendidikan terbaik di dunia.

http://www.condmat.physics.manchester.ac.uk/images/people/geim/physworld.jpg

http://cdn.c.photoshelter.com/img-get/I00006WqcQ0aPcEE/s/750/750/Andre-Geim-3.jpg
Picture: Andre Geim

Belanda dipenuhi dengan orang-orang kreatif. Terbukti bahwa Belanda memiliki sejumlah penerima hadiah Nobel yang banyak. Penerima hadiah Nobel ternama dari Belanda antara lain adalah Andre Geim untuk bidang Fisika pada tahun 2010. Serta Pieter Zeeman dan Hendrik Lorentz yang bersama-sama memenangkan Nobel Fisika tahun 1902.




*

Di Indonesia, negara yang pernah dijajah Belanda. Pendidikan belum seutuhnya dijadikan sebagai senjata. Di kota besar, para siswa dimanjakan fasilitas yang lengkap, sedangkan di desa terpencil atap sekolah bocor, lapuk dan siswa benci saat hujan datang bertandang. Adakah Indonesia mampu menjadi pionir, jawabannya Ya. Saat Pendidikan telah menjadi Pendidikan yang sebenarnya.



“The educated differ from the uneducated as much as the living differ from the dead.” 

                                                                                          Aristoteles.

            By: Wawan Kurniawan

0 comments:

Post a Comment