"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Sunday, April 21, 2013

DD 4350 NT

7:36 AM Posted by Wawan Kurn No comments
Malam ini aku berencana untuk menghabiskan seluruh tugas tambahan. Sebagai konsekuensi karena tidak mengikuti beberapa pertemuan di beberapa mata kuliah. Semester ini menantang aku untuk lebih berusaha, berlari untuk mengejar ketertinggalan. Ditambah dengan beberapa aktivitas luar yang mesti untuk diselesaikan. Aku khawatir bila tidak dapat menuntaskan semuanya malam ini, maka kuniatkan untuk melakukan lembur di depan laptop. 

Singkat cerita, aku yang berfokus pada layar laptop dan beberapa lembar jurnal psikologi kemudian tidak peduli dengan suasana sekitar. Aku lupa memindahkan motor merahku yang kuparkir di luar pagar rumah. Barulah aku tersadar saat hendak mengambil air minum. Dengan langkah yang terburu-buru aku keluar untuk mengamankan motor merahku. Akan tetapi, motor itu tak ada lagi. Sepertinya, pencuri telah mengamankannya lebih dulu. Aku tersenyum sambil garuk-garuk kepala. Pikiranku kemudian berganti, menuju persiapan seleksi yang tinggal beberapa jam lagi. Kuputuskan untuk tidak tidur malam ini, sambil menuntaskan tugas yang belum selesai, 

*
4 April 2013

Setelah ditemani Faizal untuk melapor ke kantor polisi terdekat, aku segera menuju lokasi seleksi. Kurang lebih sekitar pukul 9 pagi aku tiba di lokasi. Beberapa peserta telah berbaris di hadapan meja registrasi, beruntung acara belum dimulai. Aku segera mengerjakan tugas yang ada; merapikan dokumen peserta, memisahkan lembar penilaian, atau berbincang dengan alumni. Bahkan bercanda dengan beberapa teman, hingga Kak Astrid menegur, "Kenapa kau tidak stres, hilang betul ji motormu?" Aku hanya tersenyum. Sejanak, aku lupa kalau hari ini aku tengah kehilangan motorku.

Aku serasa bernostalgia di masa-masa pendaftaran. Aku masih bisa mengingat jelas hari pertama bertemu dengan para alumni, atau hari di mana aku diminta bernyanyi saat tes kesenian, semuanya terekam rapi dalam ingatan. Sehari sebelum seleksi, kami telah mengatur strategi. Aku bertugas untuk menemani Bunda Urfi pada tes Psikologi.



[Sumber: PCMI SULSEL] Saat Tes Psikologi 

Sepertinya, akibat begadang tubuhku sedikit terganggu. Kepalaku pusing dan tiba-tiba suhu tubuhku berubah menjadi lebih tinggi. Ya, aku demam. Dan akhirnya, aku meminta izin dan memohon maaf kepada Kak Ridho untuk pulang lebih awal. Kak Ridho mengerti dan memberikan izin. 

Seminggu setelah 4 April

Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada seseorang yang tidak kukenal, yang telah mengamankan motor merahku dengan DD 4350 NT. Ada beberapa hal yang aku dapatkan setelah motor itu diamankan; 

Pertama, aku kembali menjadi pengguna setia pete-pete. [Pete-pete, sebutan untuk angkutan umum]. Aku mengenal menjadi pengguna pete-pete sejak masih duduk di bangku kelas IV SD. Jarak rumah dan sekolahku cukup jauh hingga aku menggunakan pete-pete. Mulai dari SD, hingga selesai SMA. Dan pindah ke Makassar, masih dengan pete-pete di semester pertama dan awal semester kedua. 

Kedua, aku kembali merasa berada pada semester pertama, tanpa kendaraan pribadi dan mesti berjalan kaki. Menikmati pagi atau sore di kota ini sangat menyenangkan. Kadang kala aku merasa berada di Cikandang, Renteng.

[Sumber: Eliot] Senja di Cikandang, Renteng, Jawa Barat

Saat program PPIK, setiap hari aku mesti berjalan kaki sejauh 6 KM. Kondisi itu seperti latihan untuk mempersiapkan aku yang akan kehilangan motor merah, sekitar dua bulan setengah di program dan aku bisa menikmatinya. Jalan kaki itu sehat, dan menenangkan. Ada banyak penelitian tentang jalan kaki, silakan tanyakan pada Google. 

[Sumber: Pribadi] Menara Pinisi UNM

Aku juga menikmati tempat aku menunggu pete-pete, aku bisa melihat menara Pinisi  UNM dengan keren. 

Ketiga, aku senang datang lebih pagi ke kampus dan menghabiskan waktu di perpustakaan. Seperti yang kujelaskan sebelumnya, pagi hari adalah waktu yang baik untuk berjalan kaki. Maka, kumanfaatkan untuk berkunjung di perpustakaan dan menikmati buku-buku yang tersedia.  Dulu sewaktu masih punya motor, aku bisa memilih waktu sesukaku, kadang diserang malas tiba-tiba. Tapi sekarang, aku mesti memperhatikan cara untuk bebas dari macet maka kuputuskan untuk menunggu di perpustakaan, datang lebih pagi, dan menikmati langkah yang nyaman. 

Tuhan selalu memberikan yang terbaik kepada hambanya, aku percaya dengan itu. Kondisi ini penuh dengan makna, tinggal aku yang mesti menikmati makna yang ada. Tuhan selalu punya rencana yang baik kepada hambanya, Percayalah.!




0 comments:

Post a Comment