Pekan Kedua Februari 2013. Dua Puisi



Kemarin tepat mid project berakhir, seorang teman memberikan kabar yang menyenangkan. 
Dua buah puisi aku kembali bisa di nikmati di Koran Harian Fajar, Makassar, Minggu 10 Februari 2013. Meski tidak bisa membacanya langsung dari Surat Kabar, tak jadi masalah. 

Puisi ini lahir dari suasana Cikandang. ALHAMDULILLAH!


*

Meluapkan Lupa

Gunung yang tenang sebisa mungkin
menjadi kekasih bagi pandanganmu
rumah bambu yang rapuh sekiranya
menjadi persinggahan rasa kemarin
lumpur di sepatu dan keinginan mendaki gunung
mesti di lahap siang dengan panas ganas menghapus

memang kita mudah melupakan,
namun senang pula meluapkan
dengan keinginan besar kemudian
pintu masuk sungguh amat kecil
Maka jadilah rumah bambu tanpa,
 ada rasa rapuh kemudian haru.

Mari letakkan haru yang harapan tumbuh di puncak gunung
Tanpa sadar telah memilah waktu
untuk menuntun dosa
menjadi sujud amat rindang bagi jiwa kita masing-masing

[2013]


Kepada Hujan


sepasang bukit
menjadi mereka
kemudian
dengan senangnya selalu menerka

perihal aroma tanah selepas hujan,
hijau selepas di pelupuk kabut
dan hujan penetas rindu

kepada hujan...
jatuhlah di penampung asaku
jatuh amat dalam
namun kemudian patuhlah

kita segera kembali
terbang ke atas
jauh...
jauh, memaknai jatuh



#FOTO dari Ainun Najib Alfatih

1 comment:

Powered by Blogger.