"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Saturday, November 3, 2012

Warna Masa Tua

7:14 AM Posted by Wawan Kurn 2 comments
Selepas memperingati hari Sumpah Pemuda, aku dan teman-teman Charlottetown kemudian dihadapkan dengan berbagai kegiatan. Berbagai agenda telah tersusun rapi, Mr. Tyler dan Kak Aan telah menyiapkan semuanya dengan baik, mulai dari A-Z. Mulai dari menyambut pesta halloween, persiapan Culture Show, kemudian menghadir beberapa kegiatan volunteer. Seperti itulah kegiatan secara umum di tim kami, agenda yang menyenangkan selalu menenangkan. Menikmati kemudian melihat berbagai hal yang bisa dijadikan pelajaran berharga, karena semuanya berarti. 

Minggu ini juga berarti, tepat pada tanggal 31 Oktober saat perayaan Halloween, Mr.Kevin juga merayakan ulang tahunnya. Serangkaian acara pada hari itu, akan melahirkan kenangan tentang kebersamaan di keluarga baru ini. Tentang pasangan Kevin dan Gwenth, mereka selalu bisa mengajak kami untuk tertawa bersama dengan berbagai cerita selepas makan malam. 

"Nice couple" kata Eliot,

Ada satu hal yang saya rumuskan bersama dengan Eliot disini, 

"Untuk menjadi suami yang baik, kita harus jago memasak" 

Ayahku juga pandai memasak, disini Kevin juga pandai memasak. Seolah Tuhan meintipkan pesan itu padaku dengan memperlihatkan slide seperti itu, antara ayahku dan Kevin, mereka berdua pandai memasak. 
Aku kemudian berkesimpulan seperti itu, bahwa seorang suami wajib pandai memasak, tak boleh kalah dari istrinya. Eliot setuju, hingga kami merumuskan hal tersebut. 

Kemudian di Beach Grove,
  
Memasuki minggu ketiga, aku mulai terbiasa dengan kondisi disana. Bertemu dengan Karen, Maura, Brian dan semua yang ada di Beach Grove. Di tempat ini, aku mendapatkan tugas yang berbeda-beda setiap harinya. 

Namun intinya adalah, 

"Bagaimana membuat lansia tersenyum, tertawa, dan merasa selalu bahagia"

Seperti halnya saat menyambut perayaan Halloween, kami melaksanakan "carve pumpkin" bersama. Di ruangan Dept Recreation Beach Grove, kami mengumpulkan beberapa lansia kemudian bekerja bersama. Ada yang membersihkan labu, ada yang menandai, kemudian mulai mengukir hingga membentuk paras di buah labu. Sekiranya menyeramkan, namun karena mereka ingin lebih fun, wajah yang diukir di labu itu berubah menjadi lebih imut. Serupa wajah seorang bocah yang tersenyum, setiap kali mereka mengukir atau melihat labu yang ada dihadapannya, para lansia akan tersenyum. 

Dan saat Josh datang, lansia yang bertubuh besar berambut dan berkumis putih, tawanya selalu menggelegar. Dari tawa Josh sendiri, kadang mengundang tawa para lansia yang ada di dekatnya. Aku, Eliot pun kadang tertawa melihatnya, Josh sangat senang tertawa dengan suaranya yang keras. 

Dan saat perayaan Halloween tiba, beberapa lansia mengenakan kostum yang menarik. Dept Recreation bertugas untuk mencari kostum yang pas, dan mengatur pesta Halloween. 

Usia yang tua mungkin menghadirkan keriput di wajah mereka, namun dalam jiwanya, mereka seperti masih menyimpan kesenagan untuk bermain. Bermain layaknya anak-anak usia belasan tahun, yang tersenyum bersama atau saling menertawakan. Di ruang Auditorium pun mereka berpesta dan dihibur dengan pertunjukan dance, beberapa lagu, dan musik. 




Hari itu pun, Karen menyuruhku untuk mengenakan kostum. Meskipun aku tak membawa dari rumah, disana tersedia beberapa kostum. Dan Karen menyuruhku untuk mengenakan pakaian berupa jas putih, seperti pakaian detektif yang kukenang beberapa hari yang lalu. Sementara Brian menjadi badut,dan Eliot menjadi "Canadian Style". 


***
Di Beach Grove, kadang kami bermain beberapa permain. Seperti Crokano, dan Binggo. Aku bermain binggo setiap hari kamis, sementara Crokano tergantung waktu yang ada. 

Crokano seperti bermain kelereng di atas papan yang disediakan, ada beberapa kayu berbentuk koin yang harus disebar di papan, saling menyerang satu sama lain hingga gol. 

"Gooooal" John atau Billy kadang berteriak, dan beberapa penonton yang ada. Kami sedikit bercerita dengan mereka, entah saat bermain atau saat santai. 

Minggu ini aku juga mulai belajar untuk menyuap beberapa lansia yang sudah kesulitan saat makan. 

"Do you want drink?"

"Do you want milk?"

"Are you ok?"

"Bismillah......"

Saat pertama, aku menyuap perempuan yang duduk di kursi besar yang tak lagi bisa bicara. Aku kesulitan, namun aku belajar membaca bahasa tubuhnya. Dari kedipan matanya, aku bisa berkomunikasi dengannya. Aku juga mengucapkan "Bismillah" saat dia kesulitan membuka mulutnya. Dan alhamdulillah, berhasil. Aku tersenyum, membayangkan orang yang kusuap ini adalah orang tuaku atau orang yang aku cintai. Setidaknya, aku telah belajar disini. Setiap lansia punya kesulitan yang berbeda-beda, setiap kali aku menemukan kesulitan kadang aku mencoba sendiri, atau bertanya pada beberapa perawat yang ada, dan Aku BISA. Alhamdulillah. 

"Insya Allah, kelak jika aku punya kesempatan menemukan orang tuaku memasuki masa lansianya, dan tak bisa apa-apa lagi, maka aku akan berbakti padanya. Meluangkan waktu sesibuk apapun, aku akan berusaha membalas jasa-jasanya, membuat mereka tertawa, tersenyum dan bahagia di masa tua"

Eliot juga punya pikiran yang sama denganku. 

***

Yang tak kalah menarik adalah saat berkunjung ke beberapa kamar, menemukan mereka bermain dengan benda-benda yang ada di kamar, lalu kami menemani mereka. Disini aku bertemu dengan Andy Norc, yang dulu pernah menjadi Kapten. Dia suka memancing, dan Andy memperlihatkan foto-foto yang ada di kamarnya lalu menjelaskan semuanya. Andy juga punya banyak teka-teki yang sulit untuk di tebak, bahkan kemarin dia memberiku puzzle yang berbeda dari biasanya. Aku dan Eliot belum menemukan kuncinya, 

"Kapan-kapan, coba tinggallah makan malam disini" kata Andy

Harapan yang sama di lontarkan Billy pada kami, 

Aku tidak menganggap mereka lansia, tapi sebagai teman yang rajin berbagi cerita dan tawa. 


Foto bersama Andy Norc, 


2 comments: