Pelukan Mimpi


Jika angin di Charlottetown berubah menjadi pelukan, maka kau akan merasakan pelukan yang sangat erat. Pelukan itu terasa hingga ke tulang, seolah ingin meremuk. Meskipun kehadiran pelukan tidak untuk meremuk hingga menghancurkan, namun disini aku masih harus belajar untuk menerima pelukan angin yang begitu erat.  Hingga kemudian aku menggigil saat berjalan tanpa jaket tebal dan sarung tangan disini. Di Charlottetown, tempat yang indah.

Aku mendapatkan pelukan angin dengan sangat erat, namun malam ini sebelum aku melabuhkan tubuhku dalam dekapan selimut, aku mendapatkan pelukan berbeda dari Gwenth dan Kelvin. Pelukan yang memberi tanda bahwa kehangatan dalam hati dapat mengalahkan segalanya. Dapat memberikan kekuatan dan semangat untuk menapaki masa. Tiga bulan kedepan, aku merasa akan merangkai banyak cerita disini. Di keluarga yang senang berbagi senyum dan tertawa bersama.

***

Pagi pertama di Charlottetown, aku sarapan bersama Kelvin. Kami bercerita tentang buku, tentang rasa yang sama terhadap buku. Di rumah baru ini, aku merasakan banyak energi positif. Terlebih ketika melihat jejeran lemari buku dalam kamar.

Kemudian, pukul 09:00 pagi, aku dan Elliot diantar ke Murphy Center untuk kembali bertemu dengan Tim Charlottetown- Cikandang. Kembali untuk mengadakan orientasi, mulai dari jam 9 pagi hingga pukul 5 sore.
Saat jam istirahat di Orientasi, Aku, Elliot, Arga, dan Karim berkunjung di Mosque Charlottetown. Kami shalat dzhur berjamaah dan lunch berjamaah disana. Kami merasa rindu dengan suasana mesjid, suara adzan di subuh hari saf jamaah dan berbagai hal tentang mesjid. Namun, hari ini kami telah membuat janji untuk datang kembali esok hari. Bersama Imam mesjid itu, kami akan ke Mesjid yang lebih besar untuk Shalat Jumat. Disini, ada sekitar 300-400 muslim menurut penjaga mesjid tadi.

Kondisi yang ada kali ini berbeda, di persinggahan kali ini aku belajar untuk dapat menemukan ruang demi ruang agar aku menemukan apa yang aku cari.  Meskipun tidak semua yang kita cari akan kita dapatkan dengan mudah, namun sekiranya usaha adalah jalan untuk menuju keinginan tersebut.

***

Sepulang dari Murphy Center, aku, Adit dan Elliot berjalan kaki untuk pulang ke rumah. Rumah kami dekat dengan Murphy Center, dan rumah Adit dengan dengan rumahku. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, aku menikmati pemnadangan Charlottetown yang menawan. Di tambah dengan hembusan angin yang semakin kencang, aku menggigil lagi. Sekitar sepuluh menit, kami berjalan dan bercerita. Adit mengajak kami untuk berkunjung di rumahnya. Setelah itu, Adit yang ke rumah.


Kami makan malam bersama, dengan Kevin dan Gwenth. Adit, Elliot, rajin melontarkan pertanyaan. Malam ini menyenangkan, bahkan aku bermain facebook bersama dengan Gwenth, kemudian memainkan gitar sambil menyanyikan lagu Anging Mammiri. Memperlihatkan blog yang aku punya, dan Gwenth senang dengan postinganku. Dia rajin bertanya tentang tulisanku, seolah pertanyaannya bisa menjadi pelukan untuk mimpi-mimpiku. #optimism

3 comments:

Powered by Blogger.