First Flight Seorang Kawan

Tiga hari sebelum pemberangkatan MCU, Adit datang dan mengajukan tawaran untuk berangkat bersama. Ajakan tersebut kemudian saya terima dengan senang hati. Adit merupakan delegasi asal Sulawesi Barat. Sebelumnya aku pernah bertemu dengannya di salah satu kegiatan yang bertemakan tips trik TOEFL. Hari itu kami hanya sedikit berbincang lalu pulang ke tempat masing-masing. Berbeda dengan beberapa hari kedepan, setelah dia mengajukan tawaran untuk berangkat bersama, kami kemudian saling mengabari kondisi terbaru.

Dulu waktu Adit terpilih, aku langsung dikabari oleh Kak Andri, seorang alumni Pertukaran Pemuda Indonesia Kanada yang rajin memberikan masukan padaku. Beberapa hari sebelum proses MCU aku menyempatkan diri untuk bertemu dengan Kak Andri dan berdiskusi mengenai kelengkapan menghadapi MCU dan PDT. Beliau selalu menyempatkan waktunya untuk memberingan gambaran umum tentang proses yang akan berlangsung.


Proses seleksi Pertukaran Pemuda Antar Negara di Sulawesi Selatan dilaksanakan lebih awal dibanding dengan provinsi Adit, Sulawesi Barat. Info tentang tiap delegasi terupdate dengan cepat, didukung dengan adanya social media dan kabar dari alumni. Aku lebih dulu mengenal nama Adit, dibandingkan dengan wajahnya sendiri. Hal itu karena info yang datang dari Kak Andri. Informasi pertama yang aku tahu dar Adit adalah dia merupakan anak yang punya kemampuan seni yang keren. Dia ahli dalam memainkan beberapa alat musik. Dan informasi itu benar adanya.


Tanggal 9 September 2012, Adit tiba di Makassar setelah melalui perjalan sekitar 8 jam dari Majene, Sulawesi Barat. Hari itu, aku menjemputnya dan bersama-sama mengurus tiket.
“Ini akan menjadi first flight aku Wan” wajahnya berseri-seri, semangatnya membuncah dan menular kepadaku.


Aku selalu membalas ungkapan itu dengan senyum, tanpa berkata-kata. Dalam hati, kudoakan dia agar esok hari, kami akan lebih banyak mengikuti kegiatan yang bermanfaat, dan kami bisa bersama dalam satu penerbangan. Saat tiket sudah kami pegang, kembali Adit mengungkapkan bahagianya.


“Saya sudah tidak sabar Wan, mau ketemu dengan teman-teman”


“Semoga menyenangkan Dit”


Hingga tibalah kami pada tanggal 10 September, kami mulai bergegas. Setelah kami menyiapkan berkas untuk adminstrasi Visa dan MCU. Kami akan bertemu di bandara Sultan Hasanuddin pukul 8 pagi WITA. Adit yang menginap di salah satu penginapan di Jalan Buru berencana untuk datang satu jam lebih cepat dengan keberangkatan pesawat. Lion Air, JT 0789 dengan penerbangan pukul 9. 45 WITA dan tiba pada pukul 11.50 WIB.

Aku tiba lebih cepat. Adit terlambat dari waktu yang telah disepakati, namun bukan hal yang disengaja. Ada sedikit kendala ketika Adit hendak masuk ke dalam bandara. Dia lama bernego dengan supir taxi yang bisa mengantarkannya masuk ke bandara. Hingga tertolong dengan hadirnya seorang bapak yang mengizinkan dia untuk ikut ke dalam. Gratis.

Kami bertemu di depan pembelian tiket Garuda. Aku melihatnya membawa koper yang besar, persiapan PDT 85 % telah ia siapkan.

“Tinggal souvenir, dan makanan khas yang belum saya bawa Wan”

“Kalau saya, nanti pas PDT baru saya bawa”

Kami pun check in, dan mendapatkan seat 07F dan 06F. Pada saat dalam pesawat, Adit berulang kali menyebut “Ini penerbangan pertama saya Wan” aku turut bahagia melihatnya. Sepertinya ini adalah mimpi yang kemudian dia raih. Dia juga tidak sabar untuk bertemu dan melihat kondisi program yang nantinya akan kami jalani.
Pertukaran pemuda Indonesia Kanada, tentunya akan menjadi pengalam penting dalam mengembangkan potensi yang telah ada. Kurang lebih sekitar dua jam, kami bertukar cerita. Mulai dari proses seleksi, arahan alumni, perjuangan yang dilalui dan semua hal yang bisa menghilangkan rasa kebosanan dalam pesawat. Aku sempat tertidur beberapa menit, lalu kembali terbangun. Aku masih melihat Adit terus menatap jendela pesawat. Memperhatikan awan yang terpecah dan bebas melepas diri. Menyaksikan pulau-pulau dan laut Indonesia yang indah.

Kurang lebih sekitar dua jam, di dalam pesawat aku melihat pandangannya mengarah ke jendela, sesekali berdecak kagum.

“Very Nice” dia mengucapkan itu berulang kali.

“Kenapa tidak tidur?”

“Saya mau menikmati penerbangan pertama saya Wan”



No comments:

Powered by Blogger.