"Saya menulis untuk belajar mendengar dan menegur diri sendiri"

Sunday, July 29, 2012

Sebuah Persembahan Sederhana

2:54 PM Posted by Wawan Kurn 2 comments

Awalnya, saya tak ingin bersekolah di SMAN 1 Liliriaja. sejak Taman Kanak-Kanak hingga SMP saya menghabiskan waktu hanya di tempat yang sama, di kabupaten yang sama, Kabupaten Watansoppeng, 168 Km dari Makassar. dulu saya berniat, untuk melanjutkan SMA di luar kabupaten Soppeng. Seperti itu niat awal saya semasa masih duduk di bangku SMP, namun Tuhan punya kehendak lain. Ada beberapa alasan yang kemudian menjadikan niat itu hanya sebatas niat dan tidak terlaksana.

Pertama, saya terlambat mendaftar ke sekolah yang ingin kujadikan tempat baru, karena saya mendapat info yang kurang tepat. Karena itulah, orang tua menjadi punya alasan untuk tidak mendukung/mengizinkan saya untuk sekolah jauh-jauh. Kedua, orang tua agak ragu untuk melepas karena mengira saya masih harus berada bersama mereka. Ketiga, semasa pendaftaran ada adik baru yang masih dalam kandungan dan menjadi prioritas utama di keluarga. Untuk mengurusi saya yang hendak bersekolah di tempat yang lebih jauh, akhirnya terabaikan dengan mudah.

Tapi, semua itu tak mengapa!

Semua ada hikmahnya, meskipun awal masa sekolah kurang begitu menyenangkan bagiku. Saya masih selalu terbayang dengan keinginanku untuk sekolah di tempat yang lebih jauh dari keluarga, mungkin karena saya juga sudah ingin belajar mandiri dan hidup tanpa terlalu bergantung pada keluarga.

***

Akhirnya saya tergabung dalam kelas X.8, di kelas itu saya terpilih menjadi ketua kelas dengan sistem voting yang dipimpin oleh Bu Fatimah Nur, wali kelas kami. Saya

menerima dengan senang hati. Menjadi ketua kelas, menjadi pekerjaan saya sejak saya mulai masuk TK hingga SMP, dan masih di SMA. Menjadi ketua kelas itu kadang menyenangkan, kadang menyedihkan, setidaknya saya belajar mengendalikan segala bentuk emosi semasa menjadi ketua kelas.Untungnya di kelas X.8, teman-teman sangat bersahabat. Kita bisa menjaga kondisi menjadi lebih akrab. Ada saja, tawa yang lahir dari perbedaan itu. Kami senang berbagi tawa, dan selalu bersama, apa pun kondisinya.

Setahun berlalu, saya merasakan ada perubahan. Keinginan awal kemudian terobati dangan rapi. Akhirnya cerita saya berlanjut ke dalam ruang kelas Ilmu Alam Empat. Selama dua tahun bersama kelas ini membuat saya merasakan nuanasa keluarga yang kental, hingga kami memberi nama “d’beat” singkatan dari dua belas ilmu alam empat. Di kelas XI. IA 4 ini, Bu Fatimah Nur menjadi wali kelas kami, tahun kemarin beliau sudah mengenal sedikit banyak tentang saya. Kembali, di kelas ini saya menjadi ketua kelas, hingga seterusnya. Lanjut di kelas XII.IA 4, Bu Fatimah Nur kemudian digantikan oleh Pak Kardimon, wali kelas baru dan sepertinya akan menyenangkan. Motto kami di “d’beat : the power og togetherness”. Kekuatan kebersamaan, karena motto ini lah kami bisa menjadi juara PORSENI di tahun terakhir kami.

Ada yang unik dari masa saya, setiap tahun terjadi pergantian kepala sekolah. Dan dari ketiga kepsek itu, ada banyak pelajaran yang dititipkan kepada saya.

Pertama, Pak Udil Hamzah sebagai kepala sekolah yang sudah cukup lama memimpin sekolah ini (baca:SMAN I LILIRIAJA), saya mendengar beliau dengan pribadi yang kuat. Sangat disiplin, dan penuh pertimbangan dalam setiap keputusan yang akan diambil. Dulu, saat saya masih kelas X.8 saya pernah mengikuti suatu rapat OSIS, saya duduk paling belakang, karena terlambat datang saya harus duduk di tempat yang sempit, tiba-tiba teman saya bergerak, saling berebut tempat, dan saya pun ikut bereaksi.

“yang dibelakang, yang baju pramuka. Kalau tidak bisa diam keluar”

Di tempat itu, hanya saya yang baju pramuka, seluruh peserta rapat tatapannya tertuju padaku seorang. Sejak saat itu saya belajar untuk bersikap lebih tenang dan tidak banyak bergerak dalam rapat. Pak Udil punya tatapan yang tajam, akurat. andaikan itu sebuah bidikan panah, maka saya yakin tembakannya selalu tepat sasaran.

Kedua, Pak Udil digantikan oleh Pak Munarwan. Terjadi kondisi yang jauh berbeda, pribadi Pak Udil dan Pak Munarwan boleh dibilang berbanding terbalik. Butuh adaptasi yang baik, cara pemimpin berbeda-beda dalam mengambil keputusan. Pak Munarwan suka bercerita, berbagi pengalaman, di mushalla sekolah.

“tidak ada buah mangga yang langsung manis, kecut-kecut dulu nak” seperti itu pesan yang paling berbekas siang itu. Beliau mengajarkan arti sebuah proses. Ada satu lagi pesan beliau,

“kalau mau jadi ikan besar, jangan tinggal dalam akuarium” seperti itu pesannya.

Ketiga, selanjutnya, Pak Jidar menggantikan Pak Munarwan. Beliau mendukung kegiatan OSIS, suka bernanyi. Lagu favoritnya disetiap acara adalah “KEMESRAAN” lagu Iwan Fals itu menjadi lagu yang paling... baginya. Pemimpin setidaknya punya lagu andalan, untuk dapat mencairkan suasana, itu kesimpulan sederhana saya dari beliau.

Di sekolah ini, (baca:SMAN I LILIRIAJA) saya bertemu dengan guru-guru yang hebat. Ada Pak Karim yang dulu menjadi pembina OSIS, ada Pak Andi Budiarman yang menjadi pembina KIR, ada Pak Jamal yang menjadi pembina Pramuka, dan ada Pak Semaunna yang rajin menegur saya, sekaligus memberi gelar “ini ketua osis bodoh matematika”,

Menurut sejarah, bukan hanya saya yang diberi gelar seperti itu dari beliau. Ada banyak pendahulu saya yang juga mendapat gelar itu. Pak Semmauna bukanlah guru matematika biasa, dia sangat disiplin dan mencinta angka demi angka. Amazing for him.

Di sekolah ini saya belajar menulis, ada Pak Karim yang terus membuat saya berusaha belajar bagaimana menulis persuratan untuk admintrasi OSIS. Beliau teliti sebelum membubuhkan tanda tangannya.

Ada Pak Andi Budiarman yang terus membuat saya belajar menulis karya ilmiah, menulis latar belakang, menemukan kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Mencari hipotesis, merumuskan masalah dan seterusnya.

Ada pak Jamal, yang terus membuat saya menulis sandi rumput, hingga saya benar-benar suka dengan hijaunya rumput di setiap perkemahan.

Ada pak Yuliawan yang menjadi motivasi saya untuk mulai belajar menulis di blog. “ayo update isi blognya Wan, nda ada saya liat tulisan baru” seperti itu pesannya.

Dengan menulis, saya ingin mengucapkan terima kasihku.

Hari ini tepat di subuh yang menyenangkan, saya menulis celotehku agar kenangan bisa terjaga. Beberapa alumni sekolah ini tengah berjuang dengan jalan yang telah dipilih, masing-masing punya langkah yang berbeda. namun menjaga dan mengharumkan almamater tentu selalu akan terjaga.

30 Juli 1980, sekarang usia 32 tahun berdirinya SMAN I Liliriaja. maaf jikalau sampai detik ini saya belum punya kado istimewa, semoga saja tulisan ini bisa menjadi percikan hadiah sekaligus doa untuk sekolah.

Amiin

2 comments: